
Pekanbaru (Riaunews.com) – Ratusan hingga diduga ribuan pedagang Pasar Cik Puan atau Pasar Sukajadi, Pekanbaru, menggelar aksi unjuk rasa di sekitar Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau, Senin (7/7) pagi. Mereka menuntut dibukanya kembali akses putar balik (U-turn) di depan pasar yang telah ditutup sejak sekitar tahun 2020.
Aksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan awalnya direncanakan berlangsung di depan Mapolda Riau di Jalan Pattimura. Namun, demi menghindari kemacetan lalu lintas, lokasi dialihkan ke sisi Jalan WR Supratman, tepat di samping markas kepolisian.
Dalam orasinya, Koordinator Lapangan Aksi dari Persatuan Pedagang Pasar Cik Puan (P3CP), Sutan Sarmuni Sikumbang, dan Ketua P3CP, Edi Sabara Manik, menyuarakan keresahan pedagang yang selama bertahun-tahun merasa diabaikan oleh pemerintah.
“Pasar Cik Puan adalah pasar milik Pemerintah Kota Pekanbaru yang mengusung simbol Melayu. Tapi kondisinya memprihatinkan. Sudah tujuh kali kebakaran, ditambah lagi penutupan U-turn yang memperparah sepi pembeli,” ujar Sarmuni.
Menurut para pedagang, penutupan akses tersebut menyebabkan pengunjung pasar menurun drastis hingga lebih dari 50 persen karena kendaraan harus memutar jauh. Akibatnya, roda ekonomi pasar pun terganggu, berdampak langsung pada ribuan pekerja informal.
“Kami ini bukan hanya pedagang, tapi juga buruh angkut, tukang parkir, tukang sapu, yang hidup dari pasar ini. Banyak yang sampai terpaksa meminjam ke rentenir untuk bertahan,” tambah Edi Sabara.
Dalam aksi tersebut, P3CP menyampaikan tiga tuntutan utama:
-
Membuka kembali U-turn di depan Pasar Cik Puan yang dinilai sebagai akses vital.
-
Penataan lalu lintas secara bijak dan manusiawi tanpa merugikan ekonomi rakyat kecil.
-
Permintaan kepada Kapolda Riau dan Dinas Perhubungan Pekanbaru untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan.
“Kalau alasan penutupan adalah kemacetan, seharusnya ditata, bukan ditutup. Ini sama saja membunuh ekonomi rakyat,” tegas Sarmuni.
Pedagang juga memberi ultimatum kepada pemerintah. Jika dalam dua pekan tidak ada tanggapan, mereka mengancam akan kembali berunjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih besar.
“Kami tidak melawan, kami bertahan untuk hidup,” ujar Edi Sabara mengakhiri pernyataannya.
Aksi berlangsung tertib namun penuh semangat. Massa membawa berbagai spanduk dan poster berisi protes serta harapan agar pemerintah segera mengambil tindakan.







Komentar