Karhutla Riau Capai Lebih dari 16 Ribu Hektare, Kerumutan Terbakar 700 Hektare

Pekanbaru (RIaunews.com) – Luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sejak awal 2026 hingga 23 Agustus telah mencapai lebih dari 16 ribu hektare. Pemerintah bersama TNI, Polri, dunia usaha, dan masyarakat terus memperkuat penanganan untuk mencegah kebakaran meluas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau M Edy Afrizal mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mempercepat pemadaman karhutla. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau lokasi karhutla di Jalan Perwira, Kabupaten Kampar.

“Kolaborasi, artinya seluruh stakeholder, baik itu pemerintah, TNI Polri, dunia usaha, masyarakat, kita berkolaborasi untuk melakukan pemadaman,” kata Edy.

Karhutla Kerumutan Meluas

Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius, khususnya Kecamatan Kerumutan. Luas lahan terbakar di wilayah tersebut kini diperkirakan mencapai sekitar 700 hektare, meningkat dari sebelumnya sekitar 270 hektare.

“Kerumutan sudah nambah, dari 270 hektare sekarang sudah menambah 700 hektare,” ujarnya.

Pelalawan juga mencatat jumlah hotspot yang cukup tinggi. Berdasarkan pemantauan, sekitar 216 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut. Ratusan personel kemudian dikerahkan untuk menangani kebakaran dengan dukungan peralatan pemadaman dan helikopter untuk operasi water bombing.

Petugas menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemadaman, terutama kondisi lahan gambut, minimnya sumber air, angin kencang, serta akses menuju lokasi yang sulit. Cuaca panas juga mempercepat penguapan air sehingga lahan gambut semakin kering dan meningkatkan risiko kebakaran meluas.

“Seperti kita lihat di lokasi sekarang, kendala pertama sumber air yang minim, kemudian lahan yang gambut, kemudian angin kencang. Di tempat-tempat lain itu akses menuju lokasi yang sulit,” jelas Edy.

OMC Diperpanjang hingga 29 Agustus

Untuk memperkuat penanganan, BPBD Riau mendapat dukungan personel dari Satpol PP, Basarnas, TNI, dan Polri. Pemerintah juga melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang diperpanjang hingga 29 Agustus 2026.

Edy menjelaskan pelaksanaan OMC tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan di wilayah sasaran. Jika kondisi awan memenuhi syarat untuk penyemaian, pesawat akan segera diterbangkan.

Dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat melalui munculnya kabut asap di sejumlah wilayah. Selain Pelalawan, asap mulai terlihat di Kota Pekanbaru, terutama di kawasan yang berada pada jalur terdampak asap kebakaran.

Sementara itu, BPBD Riau memperkuat penanganan karhutla di Jalan Perwira, Desa Tambang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Lokasi tersebut menjadi perhatian karena berada tidak jauh dari permukiman warga.

“Kita melakukan perkuatan juga, baik personel maupun heli. Jadi kita kerahkan heli ke sini untuk mengantisipasi karena ini sudah dekat dengan permukiman masyarakat,” ungkap Edy.

Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap. Dinas Kesehatan Riau akan membuka posko kesehatan di sejumlah wilayah terdampak dengan menyediakan pemeriksaan kesehatan, obat-obatan, masker, dan oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan.

Komentar