Pekanbaru (Riaunews.com) – Limbah sawit yang selama ini identik sebagai sisa produksi mulai dikembangkan menjadi sumber energi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PTPN IV PalmCo tengah mengkaji pengembangan bio compressed biomethane gas (CBG) berbasis limbah sawit di Riau sebagai bagian dari percepatan transisi energi bersih nasional.
Kajian dilakukan melalui evaluasi dan audit energi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar, Riau. Tim peneliti BRIN dipimpin Kepala Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) Hens Putra bersama peneliti energi BRIN Samuel Pati Senda.
Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo mengatakan pengembangan biogas dan CBG menjadi langkah strategis perusahaan dalam mengoptimalkan limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME) serta biomassa tandan kosong menjadi energi bernilai ekonomi.
“Pengembangan biogas dan CBG menjadi salah satu fokus utama PalmCo dalam mendukung energi baru terbarukan. Kami siap mendukung seluruh proses evaluasi agar potensi energi dari limbah sawit dapat dimaksimalkan dan dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Ugun, Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, transformasi limbah sawit menjadi energi bersih merupakan bentuk penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit. Limbah yang sebelumnya hanya menjadi residu kini diolah kembali menjadi energi alternatif untuk kebutuhan industri hingga transportasi.
Target Bangun 17 Instalasi CBG
PalmCo saat ini mempercepat pengembangan CBG di berbagai unit operasional perusahaan. Salah satu proyek awal telah memasuki tahap pembangunan di PKS Tinjowan, Sumatera Utara.
Perusahaan bersama mitra strategis juga menargetkan pembangunan 17 instalasi CBG secara bertahap hingga 2029 di sejumlah wilayah operasional. Pada tahap awal tahun 2026, PalmCo menargetkan groundbreaking 10 proyek CBG sebelum dilanjutkan pada tahap berikutnya pada 2027 dan 2029.
Proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan biomethane berkadar tinggi yang dapat menjadi substitusi gas alam maupun compressed natural gas (CNG), sehingga memperkuat bauran energi baru terbarukan nasional.
Sementara itu, Hens Putra menilai sektor sawit memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan limbah menjadi energi bersih.
“Energi menjadi salah satu prioritas utama nasional. Melalui kajian ini, kami ingin menghitung sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah sawit agar dapat menghasilkan energi yang lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan pengembangan CBG berbasis sawit juga sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai tambah.
Data operasional menunjukkan pemanfaatan limbah sawit untuk energi di Sei Pagar terus meningkat. Sepanjang 2025, PTBg cofiring Sei Pagar menghasilkan 440.476 Nm3 biogas dengan rata-rata produksi 36.706 Nm3 per bulan.
Sementara pada 2026, produksi methane yang dimanfaatkan meningkat signifikan dengan rata-rata mencapai 46.683 Nm3 per bulan. Peningkatan tersebut menunjukkan limbah sawit bukan lagi sekadar sisa produksi, melainkan sumber energi baru yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat arah industri sawit Indonesia menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan.







Komentar