Membaca untuk Melawan, Menulis untuk Mengingat.

Opini, Pendidikan34 Dilihat

Oleh Dita Indah Sari

“A nation which does not read will always be dependent on others.”

Kutipan yang kerap dikaitkan dengan Mustafa Kemal Atatürk, presiden pertama Republik Turki, tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya membaca bagi kemandirian berpikir suatu bangsa. Membaca bukan sekadar memperoleh informasi, melainkan juga memahami keadaan dan mempertanyakan berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, apakah masyarakat masih memiliki kebiasaan untuk membaca dan berpikir secara kritis?

Dalam film Laut Bercerita, kita diperlihatkan bagaimana buku dan diskusi menjadi bagian dari kehidupan Biru Laut dan kelompok Winatra. Mereka membaca, bertukar pemikiran, dan mendiskusikan berbagai persoalan sosial maupun politik pada masa Orde Baru. Bagi mereka, membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademis, melainkan juga cara untuk memahami keadaan dan menyuarakan ketidakadilan.

Dari membaca lahir pertanyaan, dari pertanyaan tumbuh pemahaman, dan dari pemahaman muncul kesadaran kritis. Seseorang yang terbiasa membaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar mempertanyakan kebijakan, mengenali ketidakadilan, dan melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. Dalam kehidupan politik, kemampuan ini penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi secara mentah dan tetap memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat.

Ketakutan terhadap pemikiran kritis terkadang terlihat dari upaya membatasi akses terhadap pengetahuan. Tidak harus selalu melalui pelarangan atau pembakaran buku, tetapi juga dapat terjadi ketika kesempatan masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan bacaan menjadi semakin terbatas. Padahal, pengetahuan merupakan hak setiap manusia, bukan kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu membelinya.

Perjuangan Biru Laut mengingatkan kita bahwa seseorang mungkin dapat dibungkam, tetapi pemikiran dan ingatannya tidak selalu berakhir bersama kepergiannya. Seperti kalimat dalam Laut Bercerita, “Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali.”.

Perjuangan dapat terus hidup melalui tulisan, ingatan, dan orang-orang yang memilih untuk tidak melupakan, membaca dan menulis bukan hanya tentang mengenal dunia, tetapi juga tentang keberanian untuk mempertanyakannya. Sebab, sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan masyarakat yang mampu membaca, tetapi juga mereka yang berani berpikir, menyuarakan pendapat, dan mempertanyakan ketidakadilan. Terkadang, yang paling ditakuti bukanlah sebuah buku, melainkan pemikiran kritis yang lahir setelah seseorang membacanya.