Pekanbaru (Riaunews.com) – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 779 warga terserang Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Memasuki musim penghujan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Perubahan cuaca dari panas menjadi hujan berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk, terutama melalui genangan air yang tertampung di berbagai wadah.
Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam menghadapi periode perubahan cuaca. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) mulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Tuah Madani Catat Kasus DBD Tertinggi
Dedy mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dengan menggalakkan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
“Untuk itu, warga kita imbau agar selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan menggalakkan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” kata Dedy, Kamis (5/11/2026).
Berdasarkan data Diskes Pekanbaru, kasus DBD tersebar di 15 kecamatan. Kecamatan Tuah Madani menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 119 kasus. Disusul Marpoyan Damai sebanyak 111 kasus dan Bukit Raya 87 kasus.
Selanjutnya, Tenayan Raya mencatat 74 kasus, Binawidya 65 kasus, Payung Sekaki 61 kasus, Kulim 54 kasus, Rumbai 52 kasus, dan Lima Puluh 40 kasus.
Kemudian Rumbai Timur mencatat 38 kasus, Sail 21 kasus, Sukajadi 19 kasus, Rumbai Barat 18 kasus, Senapelan 15 kasus, dan Pekanbaru Kota menjadi wilayah dengan kasus paling sedikit, yakni lima kasus.
Dari total 779 kasus tersebut, tiga warga meninggal dunia. Masing-masing berasal dari Kecamatan Kulim, Sail, dan Tuah Madani.
Warga Diminta Tidak Anggap Remeh Demam Tinggi
Selain mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, Dedy meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat apabila mengalami demam tinggi.
Ia mengingatkan warga agar tidak menganggap demam sebagai penyakit biasa, terutama jika suhu tubuh terus meningkat dan kondisi penderita semakin melemah.
Menurutnya, keterlambatan mendapatkan penanganan medis dapat berakibat fatal. Hal tersebut terlihat dari tiga kasus kematian akibat DBD yang terjadi karena korban terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah,” pungkasnya.
