Pekanbaru (Riaunews.com) – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan warga Kota Pekanbaru terus menjadi perhatian. Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mencatat sebanyak 332 warga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap pada Jumat (23/10/2026), dengan mayoritas pasien menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengatakan dari total pasien tersebut, sebanyak 292 orang mengalami ISPA. Sementara itu, warga lainnya mengalami gangguan kesehatan berupa asma, pneumonia, konjungtivitis atau mata merah, hingga iritasi kulit.
“Para pasien sudah mendapat layanan kesehatan, ada yang mengakses layanan di puskesmas dan rumah sakit,” kata Dedy, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan masih berpotensi bertambah selama kualitas udara belum membaik. Karena itu, Diskes terus memantau perkembangan kasus yang berkaitan dengan paparan kabut asap di wilayah Pekanbaru.
ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Diskes Pekanbaru memantau kasus gangguan kesehatan akibat kabut asap melalui tim penanggung jawab program ISPA. Tim tersebut secara berkala menerima laporan dari puskesmas dan rumah sakit untuk mengetahui perkembangan jumlah pasien serta jenis penyakit yang dialami warga.
Selain ISPA yang mendominasi laporan, paparan kabut asap juga berkaitan dengan keluhan pernapasan lainnya, seperti asma dan pneumonia. Gangguan pada mata berupa konjungtivitis serta iritasi kulit turut dilaporkan.
Dedy mengatakan seluruh pasien yang tercatat telah mendapatkan layanan kesehatan sesuai kebutuhan. Pemantauan juga terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus selama kondisi udara masih belum menunjukkan perbaikan.
Total Pasien Terdampak Capai 15.808 Orang
Secara kumulatif, jumlah warga Pekanbaru yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap mencapai 15.808 orang sejak 25 Agustus 2026.
Untuk memantau perkembangan tersebut, Diskes melibatkan penanggung jawab program ISPA di tingkat dinas dan puskesmas, serta penanggung jawab Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) di rumah sakit.
“Sampai saat ini Tim PJ Program ISPA Dinkes, PJ ISPA PKM dan PJ SKDR Rumah Sakit di Pekanbaru selalu melakukan pemantauan keadaan dan data kasus penyakit akibat karhutla,” pungkas Dedy.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan kasus gangguan kesehatan sekaligus mendukung respons layanan kesehatan bagi warga yang terdampak kabut asap di Kota Pekanbaru.







Komentar