Oleh Dea Anggraini
Roblox merupakan salah satu platform permainan daring yang memungkinkan penggunanya memainkan berbagai permainan yang dibuat oleh komunitas. Namun, roblox sebenarnya tidak hanya menjadi tempat untuk bermain. Pengguna juga dapat berkomunikasi, berteman, membuat avatar, serta berinteraksi dengan orang lain melalui berbagai fitur yang tersedia. Karena itu, bagi sebagian anak dan remaja, roblox juga dapat menjadi salah satu ruang sosial di dunia digital.
Di satu sisi, keberadaan ruang seperti ini memberikan banyak kesempatan bagi anak untuk bermain dan berkreasi. Mereka dapat mencoba berbagai jenis permainan, membuat dunia virtual sendiri, bahkan berinteraksi dengan teman dari berbagai tempat. Namun, di sisi lain, interaksi dengan orang lain di internet juga memiliki risiko. Salah satunya adalah kemungkinan terjadinya pelecehan atau pendekatan yang tidak pantas terhadap pengguna yang masih berusia dibawah umur.
Persoalan tersebut tidak hanya menjadi perhatian orang tua. Pemerintah dan lembaga perlindungan anak di beberapa negara juga mulai memberikan perhatian terhadap keamanan anak di platform seperti Roblox. Di Indonesia, misalnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bertemu dengan CEO Roblox David Baszucki pada 22 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Indonesia meminta Roblox menerapkan aturan perlindungan anak sesuai dengan PP Nomor 17 Tahun 2025 atau PP TUNAS secara nyata di platformnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keamanan anak di Roblox bukan hanya persoalan antara anak dan orang tua. Ketika sebuah platform digunakan oleh banyak anak, perusahaan yang mengelola platform tersebut juga mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang lebih aman.
Masalahnya tidak hanya ada atau tidaknya fitur keamanan
Roblox sebenarnya sudah memiliki berbagai fitur yang ditujukan untuk meningkatkan keamanan penggunanya. Pada Juni 2026, Roblox memperkenalkan sistem akun berdasarkan usia, yaitu Roblox Kids untuk anak berusia 5–8 tahun dan Roblox Select untuk pengguna berusia 9–15 tahun. Sistem tersebut juga mengatur akses komunikasi berdasarkan kelompok usia.
Selain itu, Roblox menyatakan bahwa mereka menggunakan sistem moderasi untuk mengawasi komunikasi berbasis teks dan mempunyai aturan yang melarang berbagai bentuk perilaku yang membahayakan anak, termasuk grooming dan eksploitasi. Platform tersebut juga menyediakan parental controls yang memungkinkan orang tua mengatur sejumlah aktivitas anak.
Namun, menurut penulis, keberadaan fitur keamanan saja belum cukup untuk mengatakan bahwa sebuah platform sudah sepenuhnya aman.
Masalah yang lebih penting adalah bagaimana fitur tersebut bekerja ketika digunakan dalam situasi nyata. Teknologi dapat membantu mendeteksi perilaku yang mencurigakan, tetapi tidak semua bentuk interaksi yang berisiko dapat dikenali dengan mudah. Seseorang juga dapat mencoba mencari cara lain untuk menghindari sistem yang tersedia.
Hal tersebut terlihat dari perhatian regulator di Australia. Pada Agustus 2026, eSafety Commissioner Australia mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan komitmen yang dapat ditegakkan secara hukum dari Roblox untuk meningkatkan perlindungan anak dari grooming dan eksploitasi seksual. Langkah tersebut mencakup peningkatan perlindungan bagi pengguna muda di Australia.
Artinya, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya “Apakah Roblox memiliki sistem keamanan?”, tetapi juga “Apakah sistem tersebut cukup efektif dalam melindungi pengguna muda?”
Lalu, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai satu jawaban sederhana.
Roblox tentu memiliki tanggung jawab karena perusahaan tersebut menyediakan platform, menentukan fitur komunikasi, membuat aturan komunitas, serta mengembangkan sistem moderasi. Jika terdapat kelemahan dalam sistem, perusahaan perlu melakukan evaluasi dan memperbaikinya.
Namun, tanggung jawab tersebut tidak berarti orang tua tidak mempunyai peran. Orang tua juga perlu mengetahui bagaimana anak menggunakan platform digital. Mereka dapat membantu anak memahami bahwa tidak semua orang yang ditemui secara online dapat dipercaya. Anak juga perlu mengetahui bahwa mereka tidak harus melanjutkan percakapan dengan seseorang yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Di sisi lain, menurut saya, tidak tepat jika seluruh tanggung jawab diberikan kepada anak. Anak belum tentu mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk mengenali setiap bentuk interaksi yang berbahaya. Oleh karena itu, mengatakan bahwa anak seharusnya “lebih berhati-hati” saja tidak menyelesaikan masalah. Perlindungan harus dibangun sejak dari sistem platformnya.
Dengan demikian, keamanan anak seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Roblox mempunyai tanggung jawab dalam membangun sistem yang aman, pemerintah mempunyai peran dalam membuat dan mengawasi aturan, orang tua memberikan pendampingan, sedangkan anak perlu mendapatkan edukasi mengenai keamanan digital.
Apa yang Perlu Diperbaiki?
Ada beberapa hal yang menurut saya perlu terus diperkuat.
Pertama, adalah sistem pembatasan berdasarkan usia. Pengelompokan pengguna berdasarkan umur dapat membantu mengurangi interaksi yang tidak sesuai. Namun, sistem tersebut harus terus dikembangkan agar dapat bekerja secara efektif. Roblox sendiri telah menerapkan verifikasi usia dan pembatasan fitur komunikasi berdasarkan kelompok usia.
Kedua, adalah moderasi yang lebih aktif. Sistem keamanan sebaiknya tidak hanya menunggu laporan dari pengguna setelah masalah terjadi. Platform juga perlu menggunakan teknologi dan tenaga moderator untuk mendeteksi pola interaksi yang berpotensi membahayakan sejak awal.
Ketiga, adalah sistem pelaporan yang mudah digunakan. Anak yang mengalami atau menemukan perilaku yang tidak pantas harus dapat melaporkannya dengan mudah. Mereka juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai apa yang terjadi setelah laporan dibuat.
Keempat, adalah pendampingan orang tua. Roblox telah menyediakan berbagai parental controls, tetapi fitur tersebut hanya akan berguna jika orang tua mengetahui cara menggunakannya. Karena itu, edukasi mengenai keamanan digital tidak hanya perlu diberikan kepada anak, tetapi juga kepada orang tua.
Dan yang kelima adalah kerja sama antara platform dan pemerintah. Pertemuan antara pemerintah Indonesia dan Roblox pada September 2026 menunjukkan bahwa perlindungan anak di dunia digital membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Pemerintah dapat membuat standar perlindungan, sementara perusahaan perlu memastikan standar tersebut diterapkan dalam sistem mereka.
Bukan Berarti Anak Tidak Boleh Bermain Roblox
Membicarakan risiko keamanan di Roblox tidak berarti bahwa solusi satu-satunya adalah melarang anak bermain. Roblox tetap dapat memberikan ruang bagi anak untuk bermain, berkreasi, dan bersosialisasi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan tingkat perlindungan yang lebih baik.
Menurut penulis, perdebatan mengenai keamanan roblox ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah anak boleh bermain atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membuat ruang bermain digital menjadi lebih aman bagi mereka.
Platform perlu terus memperbaiki sistem keamanannya. Pemerintah perlu memastikan aturan perlindungan anak benar-benar diterapkan. Orang tua perlu memberikan pendampingan tanpa mengabaikan kemandirian anak. Sementara itu, anak perlu mendapatkan pengetahuan yang cukup agar dapat mengenali situasi yang membuat mereka tidak aman.
Pada akhirnya, tidak adil jika anak menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab atas keselamatannya sendiri di dunia digital. Ketika sebuah perusahaan menyediakan ruang yang digunakan oleh jutaan anak, keamanan seharusnya menjadi bagian penting dari bagaimana platform tersebut dirancang dan dikelola.
Anak seharusnya dapat bermain, berkreasi, dan bersosialisasi di dunia digital tanpa harus menghadapi risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, menjaga keamanan anak di Roblox bukan tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.







Komentar