Oleh Sabrina Alya Putri, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Riau
Hampir setiap sekolah punya pemandangan yang sama: bungkus makanan di selokan, sisa makanan dan daun kering yang menumpuk di sudut taman, dan sampah yang berserakan setelah jam istirahat. Ironisnya, di dalam kelas siswa baru saja mempelajari jenis-jenis pencemar dan dampaknya bagi makhluk hidup. Mereka tahu apa itu pencemaran, tetapi belum tentu peduli ketika pencemaran terjadi di depan mata.
Materi pencemaran lingkungan dalam pelajaran biologi punya potensi besar untuk menutup jarak itu. Berbeda dari topik lain, persoalan sampah bisa diamati dan ditangani langsung di lingkungan sekolah, salah satunya lewat pengomposan sampah organik.
Pencemaran Lingkungan dalam Biologi dan Adiwiyata
Pencemaran lingkungan adalah masuknya zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan sehingga kualitasnya turun dan tidak lagi sesuai peruntukannya. Dalam pembelajaran biologi, materi ini umumnya mencakup jenis pencemar, dampaknya bagi makhluk hidup, dan upaya penanggulangannya.
Program Adiwiyata memiliki komponen pengelolaan sarana dan prasarana ramah lingkungan, misalnya pengelolaan sampah, serta komponen pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan. Keduanya bertemu pada materi pencemaran: apa yang dipelajari di kelas dapat langsung diuji dan dipraktikkan di sekolah.
Pengomposan menjadi contoh yang paling tepat. Sisa makanan kantin dan daun kering dari taman adalah sampah organik yang bila dibiarkan menumpuk akan berbau, mengundang lalat, dan mencemari tanah serta air di sekitarnya. Bila diolah menjadi kompos, sampah yang sama berubah menjadi pupuk bagi tanaman sekolah. Siswa dapat melihat langsung bagaimana upaya penanggulangan pencemaran yang mereka pelajari di kelas benar-benar bekerja.
Program yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini tidak hanya bertujuan menjadikan sekolah lebih hijau dan bersih, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, berbagai kegiatan berbasis lingkungan dapat dijadikan sebagai bagian dari pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran biologi (Hermawan et al., 2023).
Taman Sekolah Sebagai Laboratorium Pengomposan
Taman sekolah dapat menjadi laboratorium sederhana untuk mempelajari pengomposan tanpa peralatan mahal. Berikut kegiatan yang cocok diterapkan di sekolah:
Pengumpulan dan pemilahan bahan kompos. Siswa mengumpulkan sisa makanan kantin, daun kering, dan rumput hasil pangkasan, lalu memisahkannya dari sampah anorganik. Bahan organik ditimbang agar siswa tahu berapa banyak sampah yang bisa dialihkan menjadi kompos.
Pembuatan kompos. Bahan organik dicacah, dicampur dengan tanah atau pupuk kandang, lalu ditumpuk dalam komposter atau lubang kompos. Campuran dijaga tetap lembap dan dibalik secara berkala.
Pengamatan proses penguraian. Siswa mencatat perubahan suhu, warna, bau, dan tekstur tumpukan dari minggu ke minggu, serta mengamati organisme pengurai seperti jamur dan cacing tanah. Kegiatan ini memperlihatkan peran dekomposer dalam mengurai bahan organik.
Perbandingan sampah organik dan anorganik. Daun dan sisa makanan dikubur bersama plastik di tanah. Siswa membandingkan kondisinya setiap minggu untuk membuktikan bahwa bahan organik cepat terurai, sedangkan plastik tidak.
Pemanfaatan kompos. Kompos yang sudah matang digunakan untuk menyuburkan tanaman di taman sekolah. Siswa dapat membandingkan pertumbuhan tanaman yang diberi kompos dengan yang tidak.
Strategi Pembelajaran Materi Pencemaran Melalui Pengomposan
Kegiatan di taman perlu dirancang agar berujung pada kepedulian, bukan sekadar pengamatan. Tiga pendekatan berikut dapat dipadukan.
Pembelajaran berbasis masalah. Guru membuka pelajaran dengan pertanyaan dari sekolah sendiri, misalnya “Ke mana sisa makanan kantin berakhir?” atau “Mengapa tumpukan sampah daun di taman berbau?”. Siswa menyusun dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan penyebabnya.
Pembelajaran berbasis proyek. Siswa membuat produk nyata, seperti kompos dari sampah kantin, poster kampanye pemilahan sampah, atau laporan pengamatan proses pengomposan. Produk itu bermanfaat bagi sekolah, sehingga motivasi siswa lebih kuat.
Pembelajaran luar kelas. Sebagian pertemuan dipindahkan ke taman. Siswa belajar dari objek langsung, lalu menuangkan hasilnya dalam diskusi dan laporan di kelas.







Komentar