Pekanbaru (Riaunews.com) – Kematian dua gajah binaan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Riau, dalam rentang waktu sekitar satu setengah bulan menjadi perhatian. Gajah jantan Jovi dan Diego sama-sama mengalami gangguan pada saluran pencernaan sebelum akhirnya mati.
Jovi, gajah jantan berusia sekitar 46 tahun, mati pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 20.47 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari. Sekitar enam minggu kemudian, gajah Sumatera jantan bernama Diego yang berusia 17 tahun juga mati pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
Catatan medis kedua gajah menunjukkan adanya persoalan pada sistem pencernaan. Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang kemudian memicu kelemahan otot berat atau myopathy. Sementara hasil nekropsi Diego menunjukkan dugaan infeksi kronis pada saluran pencernaan.
Kesamaan tersebut menjadi perhatian karena gajah binaan di PLG Minas mendapatkan sejumlah pakan tambahan, salah satunya pelepah sawit. Namun, kesamaan gangguan pencernaan belum dapat membuktikan adanya hubungan langsung antara pakan tersebut dan kematian kedua gajah.
BBKSDA Riau Benarkan Pelepah Sawit Jadi Pakan Tambahan
Kabid Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin membenarkan pelepah sawit menjadi salah satu pakan tambahan bagi gajah binaan di PLG Minas.
“Benar. Itu memang bagian dari pakan tambahan, salah satu yang diberikan adalah pelepah sawit. Kemudian ada pelepah pisang, batang jagung dan penambahan nutrisi lainnya baik gula, beras, dedak atau garam,” kata Ujang, Kamis (24/9/2026).
Ujang juga membenarkan Jovi dan Diego mengalami persoalan pada saluran pencernaan sebelum kematian. Menurutnya, hasil nekropsi Diego menunjukkan adanya infeksi pada saluran tersebut.
“Hasil nekropsi dijelaskan mengenai adanya infeksi saluran pencernaan. Kami hanya mengamati kondisi kotoran yang mati,” ujarnya.
Aktivis pemerhati gajah sekaligus founder For Gajah, Rahman Fitriani Dwi Kurniasari, mengatakan pelepah sawit tidak dapat langsung disebut sebagai penyebab kematian Jovi maupun Diego.
Namun, menurutnya, kesamaan gangguan pencernaan pada dua gajah dalam waktu berdekatan membuat pola pemberian pakan perlu ditelusuri lebih lanjut.
“Perlu dikaji ulang terkait pemberian pelepah sawit terhadap gajah-gajah binaan milik negara. Bagaimana pun, sangat perlu meminimalisir risiko kematian gajah binaan apalagi breeding program gajah ini tidak pula sesuatu yang instan,” katanya.
Perubahan Nafsu Makan Gajah Lain Perlu Diperiksa
Fitriani mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai aktivitas perawatan gajah di PLG Minas. Berdasarkan informasi tersebut, terdapat gajah lain yang sempat mengalami perubahan nafsu makan setelah mendapatkan pakan tambahan berupa pelepah.
Salah satunya gajah bernama Dayang. Ia disebut mulai menunjukkan perubahan perilaku makan sejak 10 Agustus 2026. Pada hari tersebut, Dayang tidak mengonsumsi pakan berupa pelepah.
Kondisi tersebut disebut berlanjut ketika pelepah kembali diberikan. Sementara nanas, jagung, dan pisang masih dikonsumsi, meski dengan tempo lebih lambat.
Fitriani menegaskan catatan tersebut belum membuktikan pelepah sebagai penyebab gangguan kesehatan Dayang. Namun, perubahan pola makan yang berulang dan muncul bersamaan dengan pemberian pakan tertentu dinilai perlu diperiksa secara ilmiah.
“Amat disayangkan jika tidak ada evaluasi lanjutan setelah kematian Jovi dan Diego,” ungkapnya.
Menurut Fitriani, hubungan antara jenis pakan dan penyakit tidak dapat ditentukan h
