Bersama PHR, Petani Balai Raja Bangun Koeksistensi dengan Gajah Sumatera

Duri (Riaunews.com) – Malam yang dulu dipenuhi kecemasan kini perlahan berubah menjadi harapan bagi para petani di kawasan Koridor Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, Riau. Konflik berkepanjangan antara manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) mulai menemukan titik terang melalui program koeksistensi yang melibatkan masyarakat dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, Jhon Hendrik Purba, mengatakan para petani kini mulai mengubah pola pengelolaan lahan agar lebih ramah terhadap satwa liar. Menurutnya, menjaga koridor gajah tidak berarti menghambat masyarakat untuk berkembang secara ekonomi.

“Sekarang kami mulai belajar bahwa menjaga koridor gajah bukan berarti masyarakat tidak bisa berkembang. Justru kalau alamnya tetap terjaga, kami juga punya peluang untuk terus hidup dan mencari penghasilan di sini bersama-sama,” ujar Jhon dalam momentum peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2026.

Melalui pendekatan agroforestri, para petani mulai menanam komoditas yang tidak disukai gajah seperti cabai sebagai sumber penghasilan jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, masyarakat membudidayakan tanaman tahunan seperti durian, alpukat, kakao, matoa, jengkol hingga kopi guna memperkuat tutupan lahan di kawasan koridor satwa.

Tak hanya itu, masyarakat juga menanam berbagai jenis pakan alami gajah seperti rumput odot, pisang, bambu, nangka hingga trembesi di jalur lintasan satwa. Langkah tersebut dinilai efektif mengurangi potensi gajah masuk ke kawasan permukiman maupun lahan pertanian warga.

PHR Dorong Perlindungan Ekosistem dan Ekonomi Warga

Selain pengelolaan lahan, masyarakat juga mulai mengembangkan budidaya sapi dan kambing berbasis silvopastura. Sistem ini memungkinkan pemanfaatan lahan secara terintegrasi tanpa membuka kawasan hutan baru yang selama ini menjadi salah satu pemicu konflik satwa dan manusia.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi.

“Melalui program tersebut, PHR mendorong masyarakat dan keanekaragaman hayati untuk tumbuh bersama. Apa yang dilakukan oleh Pak Jhon Hendrik dan KTH Alam Pusaka Jaya adalah contoh nyata dari koeksistensi sejati,” kata Iwan.

Ia menegaskan, perlindungan ekosistem merupakan investasi jangka panjang bagi keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa depan.

Kini, Koridor Balai Raja mulai menunjukkan perubahan. Ketakutan warga terhadap konflik satwa perlahan berkurang dan berganti dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian habitat Gajah Sumatera.