By: Assyifa Queen Zahabya
Banyak orang membayangkan kuliah di luar negeri sebagai pengalaman yang penuh kebebasan, teman baru, dan petualangan. Saya juga pernah membayangkannya seperti itu. Namun, setelah benar-benar menjalaninya, saya sadar bahwa ada banyak hal kecil yang tidak pernah dibicarakan sebelum kita berangkat. Beberapa bahkan baru saya pahami setelah mengalaminya sendiri.
Kalau bisa kembali ke hari pertama sebelum berangkat, lima hal ini adalah yang paling ingin saya ketahui.
1. Tidak Semua Orang Se-“Friendly” Orang Indonesia
Sebagai orang Indonesia, kita mungkin sudah terbiasa dengan budaya yang cukup hangat. Bertemu orang baru, saling menyapa, berbasa-basi, atau bahkan membantu orang yang baru dikenal terasa cukup natural. Ketika tinggal di luar negeri, kita mungkin akan menemukan bahwa tidak semua orang memiliki kebiasaan yang sama.
Bukan berarti mereka tidak ramah atau tidak menyukai kita. Mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam berinteraksi. Ada yang lebih pendiam, lebih menjaga ruang pribadi, atau membutuhkan waktu lebih lama sebelum merasa dekat dengan seseorang.
Jadi, jangan terlalu cepat berpikir, “Kenapa orang di sini cuek?” Bisa jadi, itu memang cara mereka berinteraksi sehari-hari. Pada akhirnya, kita yang perlu belajar menyesuaikan diri. Tidak semua tempat akan memberikan kehangatan dengan cara yang sama seperti di rumah.
2. Kenali Tempat Tinggalmu Bahkan Sebelum Kamu Datang
Hal lain yang terdengar sepele, tetapi ternyata sangat membantu adalah mengenali lingkungan tempat kita akan tinggal sebelum benar-benar tiba.
Sebelum berangkat, coba cari tahu swalayan terdekat, laundry, tempat makan murah, klinik, transportasi umum, ATM, dan tempat-tempat penting lainnya. Buka Google Maps dan lihat apa saja yang ada di sekitar tempat tinggal atau kampus. Selain itu, melihat social media, dimana orang-orang berbagi pengalaman dan tips pribadi nya, ini bisa membantu untuk adaptasi lebih cepat.
Hal sederhana ini bisa membuat hari-hari pertama terasa jauh lebih mudah. Bayangkan tiba di negara baru, sendirian dengan koper besar, lalu baru sadar bahwa kamu tidak tahu harus membeli makanan di mana atau mencuci pakaian di mana.
Dengan mengenali lingkungan terlebih dahulu, tempat yang awalnya terasa asing bisa sedikit terasa familiar. Kita memang belum pernah tinggal di sana, tetapi setidaknya kita tidak benar-benar datang tanpa persiapan.
3. Homesick Itu Normal, Tidak Perlu Dibuat Dramatis
Rasa rindu rumah atau homesick adalah hal yang sangat normal ketika tinggal jauh dari keluarga. Kita bisa tiba-tiba merindukan makanan rumah, keluarga, teman, bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.
Namun, homesick tidak selalu berarti kita salah memilih untuk pergi. Kita juga tidak harus menjadikan rasa rindu sebagai sesuatu yang terlalu dramatis.
Kadang, cukup dengan menelepon keluarga, makan makanan Indonesia, mengobrol dengan teman, atau membiarkan diri sendiri merasa sedih sebentar. Setelah itu, kita bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Belajar jauh dari rumah bukan berarti kita harus berhenti merindukan rumah. Kita hanya perlu belajar bahwa rasa rindu bisa hadir bersamaan dengan rasa bahagia karena sedang menjalani kehidupan baru.
4. Mengatur Uang Adalah Keterampilan untuk Bertahan Hidup
Saat tinggal di luar negeri, kemampuan mengatur uang bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Ini bisa menjadi salah satu keterampilan penting untuk bertahan hidup.
Pengeluaran kecil sering kali terasa tidak berarti pada awalnya. Makan di luar, membeli minuman, transportasi, laundry, kebutuhan kuliah, hingga pengeluaran tidak terduga bisa menumpuk tanpa kita sadari.
Karena itu, penting untuk mengetahui berapa uang yang kita punya dan ke mana uang tersebut pergi. Kita tidak harus menjadi ahli keuangan. Cukup belajar membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya kita inginkan.
Percaya atau tidak, salah satu bentuk kedewasaan ketika tinggal jauh dari rumah adalah mampu mengatakan, “Aku sebenarnya mau beli ini, tapi budget-ku tidak memungkinkan.”
5. Terima Bahwa Kamu Harus Berdikari
Mungkin ini adalah pelajaran terbesar dari semuanya. Ketika tinggal jauh dari rumah, kita harus menerima bahwa tidak akan selalu ada orang yang bisa membantu kita.
Ketika sakit, bingung, kehilangan barang, menghadapi masalah akademik, atau bahkan ketika tidak tahu harus melakukan apa, kita mungkin berharap keluarga bisa langsung datang membantu, tapi apalah daya.
Awalnya mungkin terasa berat. Tetapi perlahan, kita belajar mencari solusi sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan kita. Berdikari bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain. Kita tetap membutuhkan teman, keluarga, dan orang-orang yang mendukung kita. Berdikari berarti kita belajar untuk tidak selalu bergantung pada mereka dalam menyelesaikan setiap masalah.
Pada akhirnya, mungkin inilah salah satu alasan mengapa kuliah di luar negeri terasa begitu berbeda. Kita memang pergi untuk mendapatkan pendidikan, tetapi tanpa sadar kita juga sedang belajar menjadi seseorang yang lebih mandiri.
