Pekanbaru (Riaunews.com) – Harga daging ayam ras di sejumlah wilayah Provinsi Riau mengalami kenaikan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Riau menyebut peningkatan permintaan masyarakat dan kenaikan biaya produksi menjadi sejumlah faktor yang mendorong pergerakan harga di pasaran.
Kepala Bidang Agribisnis DPKH Riau, Heri Afrizon, mengatakan kenaikan tersebut mengikuti hukum pasar ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak tumbuh dalam tingkat yang sama. Konsumsi rumah tangga serta kebutuhan ayam untuk berbagai kegiatan masyarakat turut mendorong peningkatan permintaan.
Permintaan Ayam Meningkat
Heri mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah juga ikut meningkatkan kebutuhan daging ayam ras. Menurutnya, pemerintah perlu terus memantau perkembangan kebutuhan ayam, termasuk permintaan yang berasal dari pelaksanaan program tersebut.
“Kenaikan harga daging ayam ras yang terjadi belakangan ini merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi produksi maupun permintaan,” kata Heri kepada GoRiau.com, Jumat (4/9/2026).
Biaya Produksi dan Distribusi
Heri menjelaskan kenaikan harga juga dipengaruhi biaya produksi di tingkat peternak, seperti pakan, bibit ayam atau Day Old Chick (DOC), obat-obatan, dan operasional. Peternak di Riau juga masih bergantung pada pasokan pakan dari luar daerah sehingga biaya produksi ikut terdampak.
Selain itu, biaya distribusi turut memengaruhi harga karena sentra produksi ayam berada di sejumlah wilayah yang jauh dari pusat konsumsi. DPKH Riau bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan instansi terkait terus memantau populasi ayam, distribusi ayam hidup dan karkas, serta tingkat konsumsi di kabupaten dan kota. Heri memastikan ketersediaan ayam ras secara umum masih mencukupi kebutuhan masyarakat, sementara pemerintah menyiapkan opsi intervensi melalui gerakan pangan murah jika kenaikan harga semakin membebani daya beli.







Komentar