447 Hotspot Terdeteksi di Riau, Pelalawan dan Inhil Jadi Wilayah Terbanyak

Pekanbaru (Riaunews.com) – Sebanyak 447 titik panas atau hotspot terdeteksi di Provinsi Riau berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir (Inhil) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella R Adelia, mengatakan data yang diperbarui Selasa (25/8/2026) pukul 07.00 WIB mencatat total 2.787 hotspot di wilayah Sumatera. Dari jumlah tersebut, Riau menyumbang 447 titik.

“Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 447 titik panas. Sebaran hotspot di Riau didominasi Kabupaten Pelalawan dengan 174 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 159 titik,” ujar Bella.

Hotspot Tersebar di Sejumlah Daerah

Selain Pelalawan dan Inhil, hotspot juga terdeteksi di Bengkalis sebanyak 40 titik, Indragiri Hulu 29 titik, Kampar 14 titik, Rokan Hilir sembilan titik, Rokan Hulu tujuh titik, Siak enam titik dan Kota Pekanbaru lima titik.

Sementara itu, Kepulauan Meranti terpantau memiliki tiga hotspot dan Kuantan Singingi satu titik. Sebaran tersebut menunjukkan titik panas masih terdapat di sejumlah wilayah Riau di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatera, jumlah hotspot Riau masih berada di bawah Sumatera Selatan yang mencapai 1.551 titik. Jambi berada di urutan berikutnya dengan 361 titik, disusul Lampung 172 titik, Bangka Belitung 109 titik dan Kepulauan Riau 71 titik.

Hujan Berpotensi Bantu Redam Karhutla

BMKG juga memprakirakan hujan ringan hingga sedang terjadi di sejumlah wilayah Riau pada Selasa. Hujan berpotensi mengguyur beberapa daerah yang menjadi lokasi konsentrasi hotspot sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi potensi meluasnya karhutla.

Pada sore hingga malam hari, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kampar, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi dan Kota Pekanbaru.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tingginya jumlah hotspot masih berpotensi memicu kebakaran, terutama di wilayah dengan kondisi lahan kering dan bahan bakar yang mudah terbakar.