Pekanbaru (Riaunews.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren penurunan angka kelahiran di Provinsi Riau masih berlanjut hingga 2025. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) Riau turun menjadi 2,21.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan angka tersebut lebih rendah dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) yang berada di angka 2,28. Penurunan ini juga melanjutkan tren sejak 2010 yang saat itu masih mencapai 2,82.
“TFR Provinsi Riau hasil SUPAS 2025 tercatat sebesar 2,21. Ini menunjukkan tren penurunan fertilitas masih berlanjut dan Riau semakin mendekati tingkat penggantian penduduk atau replacement level,” ujar Asep Riyadi, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, meski tren penurunan terus terjadi, lajunya kini cenderung lebih landai dibandingkan periode sebelumnya.
BPS juga mencatat adanya perbedaan tingkat fertilitas antarwilayah di Riau. Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan TFR terendah sebesar 2,04, sedangkan Kabupaten Bengkalis mencatat angka tertinggi yakni 2,53.
“Perbedaan ini mencerminkan variasi karakteristik sosial, budaya, ekonomi, serta akses terhadap layanan kesehatan reproduksi di masing-masing daerah,” jelasnya.
Kelahiran Usia Muda Turun Signifikan
Data Age Specific Fertility Rate (ASFR) menunjukkan penurunan signifikan pada kelompok usia 15–19 tahun. Pada 2010, angka kelahiran kelompok usia muda tercatat 43,90 kelahiran per 1.000 perempuan, sedangkan pada 2025 turun menjadi 11,08.
“Penurunan fertilitas pada usia muda cukup signifikan. Namun puncak fertilitas masih berada pada kelompok umur 25–29 tahun, meskipun angkanya juga mengalami penurunan,” kata Asep.
Di sisi lain, BPS mencatat adanya peningkatan angka kelahiran pada kelompok usia 30–44 tahun. Kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat menunda kelahiran.
Sementara itu, Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) Riau pada 2025 tercatat sebesar 17,42 kelahiran per 1.000 penduduk, turun 1,29 poin dibandingkan tahun 2020.
Asep menegaskan, data fertilitas tersebut menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan kependudukan di Riau ke depan.
“Data fertilitas ini menjadi pijakan penting dalam menyusun kebijakan, terutama terkait pengendalian penduduk dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” tutupnya.