BMKG: Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Berpotensi Lebih Kering

Lingkungan, Nasional23 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dari biasanya. Kondisi ini diperkirakan berdampak pada meningkatnya potensi cuaca kering di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan percepatan musim kemarau dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global telah bertransisi menuju fase netral.

Selain itu, dinamika atmosfer global juga menunjukkan peluang terbentuknya El Niño pada pertengahan tahun dengan probabilitas sekitar 50 hingga 60 persen. Kondisi ini turut meningkatkan potensi musim kemarau yang lebih kering.

Hampir Separuh Wilayah Masuk Kemarau Lebih Cepat

BMKG mencatat awal musim kemarau mulai terjadi pada April 2026 di sekitar 114 Zona Musim. Wilayah yang terdampak lebih awal meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Memasuki Mei 2026, jumlah wilayah yang mengalami kemarau diperkirakan meningkat menjadi 184 Zona Musim. Sementara pada Juni, sebanyak 163 Zona Musim lainnya diproyeksikan menyusul.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut penyebaran musim kemarau akan berlangsung secara bertahap di seluruh wilayah Indonesia.

Secara keseluruhan, sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih dini, sementara sebagian lainnya tetap normal dan sebagian kecil mengalami keterlambatan.

Risiko Kekeringan dan Dampak ke Sektor Pertanian

BMKG juga memperkirakan musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan kondisi normal, dengan curah hujan di bawah rata-rata di sebagian besar wilayah.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, meski beberapa daerah berpotensi mengalami puncak lebih awal pada Juli atau bergeser ke September. Selain itu, durasi kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang di lebih dari setengah wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gangguan sektor pertanian, serta ketersediaan air bersih. Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Pengelolaan sumber daya air, penguatan ketahanan pangan, serta penyesuaian pola tanam menjadi langkah penting dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.