Makna Ketupat dalam Tradisi Lebaran, dari Sejarah hingga Filosofinya

Budaya, Seputar Islam172 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Ketupat dikenal sebagai sajian tradisional yang hampir selalu hadir dalam perayaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Hidangan berbahan dasar beras ini biasanya disajikan bersama menu khas Lebaran seperti opor ayam dan rendang saat keluarga berkumpul.

Namun, kehadiran ketupat pada momen Idulfitri tidak sekadar menjadi pelengkap hidangan. Makanan ini juga memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat dalam tradisi masyarakat, khususnya di Jawa.

Berasal dari Tradisi Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam catatan sejarah, tradisi ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Ia memperkenalkan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat sebagai penanda waktu setelah perayaan Idulfitri.

Bakda Lebaran berlangsung sejak 1 Syawal, yang diawali dengan pelaksanaan salat Id dan kegiatan silaturahmi. Pada momen ini, umat Muslim saling berkunjung serta bermaaf-maafan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Sementara itu, Bakda Kupat biasanya dirayakan sekitar satu minggu setelah Idulfitri oleh masyarakat Muslim di wilayah Jawa. Tradisi ini diisi dengan membuat ketupat yang kemudian dinikmati bersama atau dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Kebiasaan membagikan ketupat tersebut menjadi simbol penghormatan kepada orang yang lebih tua sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Filosofi Ketupat dalam Budaya Jawa

Selain memiliki nilai historis, ketupat juga mengandung filosofi mendalam yang dikenal sebagai konsep laku papat dalam budaya Jawa.

Konsep ini mencakup empat makna utama, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.

Lebaran melambangkan berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Luberan bermakna berbagi rezeki kepada sesama. Leburan menggambarkan saling memaafkan atas kesalahan yang pernah terjadi, sedangkan Laburan melambangkan kondisi kembali suci setelah menjalani ibadah selama Ramadan.

Melalui simbol tersebut, ketupat tidak hanya menjadi hidangan khas Lebaran, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, saling memaafkan, dan harapan untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah bulan suci Ramadan.

Komentar