Pekanbaru (Riaunews.com) – Minum kopi saat sahur kerap dipilih masyarakat untuk menjaga tubuh tetap segar dan tidak mudah mengantuk selama menjalani ibadah puasa. Namun, kebiasaan tersebut perlu dilakukan dengan bijak karena dapat menimbulkan dampak tertentu bagi kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki masalah lambung atau sensitif terhadap kafein.
Kopi diketahui mampu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi berkat kandungan kafein di dalamnya. Meski demikian, respons tubuh terhadap kopi saat sahur berbeda pada setiap orang. Sebagian orang dapat mengonsumsinya tanpa keluhan, namun sebagian lainnya mengalami perut tidak nyaman, mual, hingga jantung berdebar.
Kopi juga dapat merangsang produksi asam lambung yang berisiko memicu nyeri ulu hati, terutama jika diminum dalam kondisi perut kosong atau pada penderita maag dan Gastroesophageal Reflux Disease. Selain itu, efek diuretik ringan dari kopi dapat membuat tubuh lebih cepat merasa haus apabila tidak diimbangi dengan asupan air putih yang cukup.
Untuk mengurangi risiko tersebut, konsumsi kopi saat sahur disarankan tidak lebih dari satu cangkir kecil atau sekitar 150 mililiter. Minum kopi sebaiknya dilakukan setelah makan sahur, bukan dalam kondisi perut kosong, serta mengurangi penggunaan gula agar tidak memicu lonjakan gula darah yang membuat tubuh cepat lemas saat berpuasa.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang cukup saat sahur dan setelah berbuka. Bagi individu dengan riwayat maag, gangguan lambung, gangguan irama jantung, kecemasan, atau ibu hamil, konsumsi kopi saat sahur sebaiknya dibatasi atau dihindari karena tubuh lebih sensitif terhadap efek kafein.
Secara umum, minum kopi saat sahur diperbolehkan selama dilakukan dalam batas wajar dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Pemahaman terhadap respons tubuh terhadap kafein dinilai penting agar ibadah puasa dapat dijalani dengan nyaman, aman, dan tetap bertenaga sepanjang hari.
