Pekanbaru (Riaunews.com) – Kelas menengah sering berada di posisi unik antara mengejar kenyamanan hidup dan menghadapi tekanan finansial. Menurut CEO Pineapple Money, Zach Larsen, banyak orang di kelas ini berupaya tampil sukses secara sosial dengan membeli barang yang memberi citra kaya, meski belum tentu mampu secara finansial. Fenomena ini mencerminkan dorongan akan status sosial yang kuat dalam masyarakat modern.
Salah satu simbol paling populer adalah mobil mewah. Merek seperti BMW, Audi, dan Mercedes sering menjadi pilihan, meski harganya bisa lebih tinggi dari gaji tahunan pemiliknya. Menariknya, data Experian Automotive menunjukkan bahwa 60 persen keluarga berpenghasilan tinggi di atas US$250.000 per tahun justru memilih merek mobil mainstream seperti Honda atau Toyota. Bagi mereka, kendaraan hanyalah alat transportasi, bukan simbol status.
Selanjutnya, pakaian desainer juga menjadi incaran kelas menengah ke bawah yang ingin terlihat sukses. Mereka menganggap mengenakan merek fesyen mewah seperti Gucci atau Louis Vuitton akan membuatnya tampak kaya. Padahal, orang benar-benar kaya lebih menghargai kesederhanaan, kualitas, dan keawetan pakaian ketimbang logo mahal yang melekat di tubuh.
Tak kalah penting, rumah besar di kawasan elit juga menjadi simbol status yang sering mengecoh. Banyak keluarga kelas menengah menghabiskan 30–40 persen pendapatannya untuk cicilan rumah mewah. Namun, riset Thomas C. Corley menunjukkan bahwa 64 persen orang kaya justru memilih rumah sederhana dan mengalihkan uang lebihnya ke investasi produktif.
Jam tangan mahal pun kerap dipakai untuk menunjukkan keberhasilan, padahal bagi orang kaya sejati, waktu jauh lebih berharga dari jamnya. Mereka tak perlu validasi sosial dari merek yang melekat di pergelangan tangan, karena fokus mereka adalah membangun bisnis dan nilai jangka panjang.
Terakhir, liburan mewah dan penerbangan kelas satu sering kali menjadi ajang pamer bagi kelas menengah. Sayangnya, sebagian membiayai gaya hidup ini dengan utang kartu kredit. Sementara orang kaya sejati menikmati perjalanan dengan uang yang benar-benar mereka miliki, karena mereka tahu kemewahan sejati bukan terletak pada pengalaman mahal, melainkan pada kebebasan finansial tanpa utang.







Komentar