Jakarta (Riaunews.com) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) dapat mulai berjalan pada tahun depan. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG), yang selama ini masih tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, sejumlah negara telah menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam proyek strategis tersebut. “Sekarang kita lagi uji FS-nya dengan teknologinya. Tapi ancang-ancangnya sudah ada dua: satu dari China, satu gabungan antara Korea dan Eropa. Finalnya nanti kita lihat,” ujarnya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Menurut Bahlil, hilirisasi DME menjadi langkah penting dalam memanfaatkan cadangan batu bara nasional yang sangat besar. Ia menegaskan bahwa proyek ini masih sesuai rencana dan akan menggunakan batu bara lokal dengan teknologi yang kini semakin efisien dan ramah lingkungan. “Teknologinya sekarang sudah jauh lebih baik, jadi hasilnya akan lebih efisien,” tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa Kementerian tengah meninjau ulang prospek proyek DME dengan mempertimbangkan sejumlah proposal baru dari calon investor. “Ada satu atau dua proposal yang menunjukkan IRR-nya positif, cukup kompetitif,” katanya.
Tri juga menyinggung proyek kerja sama sebelumnya antara PT Bukit Asam (PTBA) dan Air Products, yang sempat tertunda akibat perbedaan penetapan harga antara pihak pengolah dan pembeli, sehingga membuat proyek tidak layak secara ekonomi. Kini, dengan masuknya proposal baru, diharapkan proyek tersebut bisa kembali dilanjutkan setelah melalui studi kelayakan mendalam.
“Kita ingin memastikan proyek ini benar-benar feasible. Kalau nanti hasil studi menunjukkan positif, tentu akan segera kita tindak lanjuti,” tutup Tri.







Komentar