Gaza (Riaunews.com) – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah tentara Israel mengepung Rumah Sakit Al-Helou di Kota Gaza, Ahad (28/9/2025) malam. Pasukan Israel menargetkan fasilitas kesehatan tersebut dengan dua tembakan artileri yang menghantam bangunan rumah sakit.
Sumber medis menyebut, Al-Helou menampung sejumlah departemen penting, termasuk ruang perawatan kanker serta unit bayi baru lahir yang merawat 12 bayi prematur. Lebih dari 90 tenaga medis dan pasien masih terjebak di dalam gedung. Tank-tank Israel menutup akses masuk maupun keluar, sehingga evakuasi mustahil dilakukan.
Serangan ini menambah daftar panjang serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza. Sebelumnya pada 23 September 2025, instalasi oksigen sentral di Rumah Sakit Al-Quds lumpuh setelah ditembaki pasukan Israel. Rumah Sakit Indonesia sudah tidak dapat diakses sejak 18 Mei, sementara Rumah Sakit Kamal Adwan berhenti beroperasi pada 20 Mei setelah pertempuran hebat di sekitarnya.
Dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta jiwa, Gaza kini hanya memiliki sekitar 2.000 tempat tidur rumah sakit. WHO memperingatkan 40 tempat tidur berada di zona evakuasi baru dan berisiko hilang, sementara 850 tempat tidur lainnya juga terancam jika kondisi keamanan terus memburuk.
PRCS menegaskan kondisi di sekitar Rumah Sakit Al-Helou semakin berbahaya. Kendaraan militer Israel yang diparkir di gerbang selatan menutup jalur keluar-masuk, sehingga membahayakan pasien dan tenaga medis. WHO mencatat sejak Oktober 2023 hingga Mei 2025 telah terjadi 697 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza, termasuk 28 serangan hanya dalam sepekan terakhir Mei.
Saat ini hanya 19 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi, sebagian besar dalam kondisi terbatas. Dari jumlah itu, 12 rumah sakit masih mampu memberikan layanan kesehatan, sementara sisanya hanya menangani perawatan darurat.
WHO memperkirakan 94 persen fasilitas kesehatan di Gaza rusak atau hancur akibat perang. Kondisi paling kritis terjadi di Gaza Utara, di mana Rumah Sakit Al-Awda hanya berfungsi minimal sebagai titik stabilisasi trauma dan terancam tutup.
