Oleh Teti Noprian, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Riau
Banyak sekolah sudah memasang tulisan “Sekolah Hijau”, menanam pohon peneduh, dan menyediakan tempat sampah terpilah. Namun di ruang kelas, pelajaran sering berjalan seperti biasa: siswa duduk, mencatat, menghafal, lalu diuji. Lingkungan menjadi tema pelengkap, bukan cara belajar itu sendiri. Dyment dan Reid (2005) mencatat hal serupa: kegiatan penghijauan sekolah kerap berada di pinggiran pengalaman belajar siswa, sehingga potensinya untuk membawa perubahan belum terwujud.
Di sinilah pedagogi hijau menawarkan arah yang berbeda. Pedagogi hijau tidak sekadar menambahkan materi lingkungan ke dalam pelajaran. Ia mengubah cara guru merancang pembelajaran dan cara siswa belajar, sehingga kepedulian terhadap alam tumbuh dari pengalaman, bukan dari instruksi.
Memahami Pedagogi Hijau.
Pedagogi hijau (green pedagogy) dikembangkan di University College for Agrarian and Environmental Pedagogy, Wina, Austria, sebagai pedagogi yang praktis dan dapat diterapkan untuk menumbuhkan pola pikir berkelanjutan pada siswa (Fox & Wogowitsch, 2021). Sasarannya melampaui pengetahuan dan keterampilan, yaitu sikap jangka panjang berupa nilai dan kemampuan bekerja sama.
Ciri utamanya ada tiga. Pertama, belajar berangkat dari masalah nyata yang dekat dengan siswa. Kedua, guru menggali apa yang sudah diyakini siswa sebelum memperluas sudut pandang mereka. Ketiga, proses belajar berakhir pada tindakan lokal yang dikaji dampak lebih luasnya (Fox & Wogowitsch, 2021). Pendekatan ini dapat dipadukan dengan pembelajaran berbasis projek dan studi kasus.
Di Indonesia, pedagogi hijau telah dikembangkan menjadi perangkat pembelajaran bagi calon guru Biologi di Universitas Riau, berupa modul dan lembar kerja mahasiswa. Keduanya disusun dengan model Burns yang memiliki lima dimensi: konten, konteks, proses, perspektif, dan desain ekologis atau pembelajaran transformatif (Aftriani et al., 2015; Sami et al., 2015).
Isu keberlanjutan yang diangkat bersifat lokal dan dekat dengan mahasiswa, agar mereka terdorong berpikir dan bertindak hijau melalui pengalaman belajar dan partisipasi aktif (Sami et al., 2015).
Pendekatan ini beririsan dengan Adiwiyata. Penelitian di SMP Negeri 3 Kebumen menunjukkan bahwa Adiwiyata dijalankan lewat kebijakan sekolah berwawasan lingkungan, integrasi nilai peduli lingkungan ke dalam setiap mata pelajaran, dan kegiatan lingkungan yang partisipatif (Setyobudi & Saliman, 2018). Pedagogi hijau menekankan lapisan yang lebih dalam dari komponen-komponen itu, yaitu apakah proses belajar di kelas benar-benar membentuk sikap peduli, bukan hanya apakah kebijakan dan kegiatannya tersedia.
Enam Tahap Pembelajaran Hijau
Fox dan Wogowitsch (2021) memaparkan pedagogi hijau sebagai kerangka enam tahap yang dapat dibentangkan selama beberapa pertemuan: konfrontasi dengan masalah, rekonstruksi (mengungkap dan meluruskan anggapan awal), provokasi (memperluas sudut pandang), interaksi (diskusi untuk menimbang solusi), dekonstruksi (mengaitkan masalah dengan pengalaman dan tindakan siswa sendiri), dan refleksi (membayangkan ke mana tindakan itu bisa berujung). Kerangka ini bersifat lintas mata pelajaran.
Sebagai gambaran, berikut contoh penerapannya pada topik pencemaran udara di kelas Biologi (ilustrasi penulis berdasarkan kerangka tersebut):
1. Konfrontasi. Siswa membandingkan foto daun berdebu di tepi jalan sekolah dengan daun di taman, lalu bertanya mengapa keduanya berbeda.
2. Rekonstruksi. Siswa menyampaikan dugaan masing-masing, lalu mengujinya lewat pengamatan awal.
3. Provokasi. Guru menghadirkan perspektif lain, misalnya pedagang kantin dan warga sekitar yang setiap hari terpapar debu dan asap.
4. Interaksi. Kelompok mendiskusikan dan menimbang berbagai solusi.
5. Dekonstruksi. Siswa mengusulkan tindakan yang bisa mereka lakukan sendiri, seperti menanam tanaman peneduh di sepanjang pagar.
6. Refleksi. Siswa membayangkan dampaknya bila langkah itu diterapkan di seluruh sekolah dan lingkungan sekitar.
Dua tahap terakhir penting karena mencegah siswa merasa tak berdaya setelah mengenali masalah yang besar (Fox & Wogowitsch, 2021).
Wujud Pedagogi Hijau dalam Pembelajaran
Pedagogi hijau dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran, tidak hanya biologi atau IPA. Berikut contoh kegiatan yang realistis dilakukan di sekolah dengan sumber daya terbatas:
Audit sampah kelas. Siswa menimbang dan mengelompokkan sampah selama satu minggu, lalu menyajikannya dalam grafik. Kegiatan ini melatih matematika, sains, dan kesadaran konsumsi. Praktik pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan ulang sampah plastik juga terbukti membantu siswa SMA memahami nilai-nilai ekologis (Pranoto et al., 2025).
- Kebun sekolah sebagai ruang belajar. Kebun, hidroponik, dan alat pemilah sampah yang sederhana berfungsi sebagai media belajar kontekstual sekaligus memperkuat budaya hijau (Gunarso et al., 2025).
- Pemantauan energi dan air. Siswa mencatat penggunaan listrik atau air, mencari titik pemborosan, lalu mengusulkan penghematan kepada sekolah.
- Menulis dan berkampanye. Dalam pelajaran bahasa dan seni, siswa membuat poster, esai, atau video pendek tentang isu lingkungan di sekitar mereka.
- Belajar dari tokoh dan komunitas lokal. Pengelola bank sampah, petani, atau kelompok peduli sungai diundang sebagai narasumber agar siswa melihat bahwa kelestarian adalah urusan sehari-hari.
Peluang yang Terbuka
Peluang pertama ada pada fleksibilitas pendekatannya. Karena hampir bersifat lintas mata pelajaran, pedagogi hijau dapat disisipkan ke dalam kurikulum yang sudah ada tanpa harus menjadi topik tersendiri dalam jadwal (Fox & Wogowitsch, 2021). Bahkan pada matematika, siswa dapat menghitung persentase sisa makanan atau jumlah curah hujan.
Peluang kedua adalah wadah kebijakan dan projek yang sudah tersedia. Di SMA Negeri 2 Sukoharjo, projek penguatan profil pelajar Pancasila bertema gaya hidup berkelanjutan telah dirancang sistematis dari perencanaan hingga evaluasi dan menumbuhkan kepedulian siswa terhadap sampah plastik (Pranoto et al., 2025). Adiwiyata juga telah membiasakan sekolah mengubah visi misi, mengalokasikan anggaran, dan melibatkan siswa dalam aksi lingkungan (Setyobudi & Saliman, 2018).
Peluang ketiga datang dari dampak yang terbukti pada siswa. Studi kasus di sebuah sekolah dasar di Banjarmasin menemukan bahwa keterlibatan guru dan siswa dalam kegiatan sederhana, seperti Jumat Bersih dan penghijauan, meningkatkan kesadaran akan kebersihan sekolah (Hanifa et al., 2025). Kajian sistematis juga mengaitkan penerapan green school dengan meningkatnya kesadaran ekologis, tanggung jawab, disiplin, dan motivasi belajar siswa (Gunarso et al., 2025).
Peluang keempat adalah tersedianya perangkat dan kajian lokal. Modul dan lembar kerja berbasis pedagogi hijau di Universitas Riau dinyatakan valid oleh para validator dan mendapat respons yang sangat baik dalam uji coba terbatas (Aftriani et al., 2015; Sami et al., 2015). Perangkat seperti ini dapat dijadikan rujukan bagi guru.
Tantangan dan Solusi
Meski menjanjikan, penerapan di lapangan menghadapi beberapa kendala. Pertama, kompetensi dan pemahaman guru. Studi di SMP Negeri 3 Makassar menemukan bahwa kompetensi guru dalam pendidikan lingkungan kurang memuaskan karena wawasan dasar yang terbatas, kemampuan mengembangkan materi ke dalam mata pelajaran yang lemah, dan belum adanya pelatihan khusus (Darmawati, 2017). Kajian di lembaga pendidikan Islam juga menyimpulkan bahwa pemahaman, kebijakan, dan pelaksanaan green school masih perlu dikuatkan (Mahyani & Ruswandi, 2024).
Pengalaman internasional serupa: proses belajar terbuka tanpa jawaban tunggal sering ditolak guru, dan kursus empat bulan saja tidak cukup untuk mengubah praktik mengajar (Fox & Wogowitsch, 2021). Solusinya adalah pelatihan berkelanjutan, komunitas belajar antarguru dengan refleksi sejawat yang rutin, dan penggunaan perangkat siap pakai seperti modul dan lembar kerja.
Kedua, kegiatan hijau yang berada di pinggir kurikulum. Agar bermakna secara pedagogis, penghijauan perlu ditempatkan lebih jelas di dalam kurikulum dan mendapat dukungan kelembagaan yang lebih luas (Dyment & Reid, 2005). Karena itu, pedagogi hijau sebaiknya diintegrasikan ke dalam kegiatan dan penilaian yang sudah ada, misalnya menjadikan projek lingkungan bagian dari tugas penilaian, bukan menambahnya sebagai beban terpisah.
Ketiga, keterbatasan sarana, dana, dan partisipasi. Tempat sampah 3R yang kurang memadai, ruang hijau yang minim, dan anggaran terbatas menjadi kendala berkelanjutan di sebuah SD di Banjarmasin (Hanifa et al., 2025). Di Makassar, kendalanya mencakup sarana, biaya, dan buku pembelajaran yang sangat terbatas (Darmawati, 2017).
Di SMA Negeri 1 Jawilan, projek berjalan lancar meski berhadapan dengan rendahnya partisipasi dan keterbatasan dana, dan solusinya adalah memperkuat sosialisasi serta memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah (Mustaqim, t.t.). Kegiatan dapat dimulai dari pot bekas, kertas indikator, atau pengamatan langsung, dengan dukungan kemitraan bersama dinas lingkungan hidup, perguruan tinggi, atau komunitas.
Keempat, kesadaran siswa dan dukungan lingkungan sekitar. Di SMA Negeri 2 Sukoharjo, siswa belum sepenuhnya menyadari pentingnya mengolah sampah, dan tempat sampah yang belum terkelola baik membuat mereka sulit membedakan jenis sampah (Pranoto et al., 2025).
Penelitian Adiwiyata di SMPN 2 Telukjambe Timur mencatat ketidakdisiplinan siswa dan minimnya dukungan keluarga sebagai hambatan (Nurapriyadi et al., 2026). Tahap konfrontasi dan dekonstruksi dalam pedagogi hijau membantu menumbuhkan kesadaran dari pengalaman siswa sendiri, sedangkan pelibatan orang tua dapat memperkuat kebiasaan di rumah.
Kelima, keberlanjutan dan budaya sekolah. Keberhasilan green school sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah yang partisipatif, kebijakan yang mendukung, dan budaya sekolah yang membiasakan perilaku ramah lingkungan (Gunarso et al., 2025). Efektivitas program juga bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sekolah (Nurapriyadi et al., 2026). Penilaian sebaiknya mencakup proses, sikap, dan kebiasaan secara berkala, bukan hanya hasil akhir atau lomba. Keteladanan guru dan pimpinan sekolah dalam mengelola sampah, air, dan energi menentukan apakah nilai yang diajarkan terasa tulus.
