Hotspot Riau Melonjak, 158 Titik Terdeteksi dalam Sehari

Pekanbaru (Riaunews.com) – Jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau melonjak tajam. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sebanyak 158 hotspot terdeteksi di Riau pada Kamis (13/8/2026).

Jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya yang mencatat 23 titik. Artinya, terjadi penambahan sebanyak 135 hotspot dalam kurun waktu satu hari.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru Deby C mengatakan, hotspot tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Riau. Indragiri Hulu menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak.

“Kabupaten Indragiri Hulu menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 36 titik. Sementara Kabupaten Bengkalis mencatat 35 titik,” ujarnya.

Hotspot Tersebar di 11 Daerah

Selain Indragiri Hulu dan Bengkalis, hotspot juga terdeteksi di sejumlah daerah lainnya. Kabupaten Indragiri Hilir mencatat 25 titik, Pelalawan 20 titik, Rokan Hilir delapan titik, Rokan Hulu tujuh titik, Siak enam titik dan Kampar lima titik.

Selanjutnya, Kepulauan Meranti terpantau empat titik, Kota Dumai dua titik dan Kuantan Singingi 10 titik. Sebaran tersebut menunjukkan titik panas muncul di berbagai wilayah Riau.

Secara keseluruhan, jumlah hotspot di wilayah Sumatera juga meningkat menjadi 1.097 titik. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 432 titik, disusul Jambi 157 titik dan Lampung 121 titik.

Berikutnya, Bangka Belitung mencatat 84 titik, Kepulauan Riau 42 titik, Sumatera Barat 31 titik, Sumatera Utara 29 titik, Aceh 25 titik dan Bengkulu 18 titik. Sementara Riau berada di posisi berikutnya dengan 158 titik panas.

Waspada Potensi Karhutla

Lonjakan hotspot di Riau menjadi perhatian karena titik panas tersebar di sejumlah wilayah yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG Pekanbaru terus memantau perkembangan hotspot dan kondisi cuaca di Riau. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu meluasnya karhutla.