Indragiri Hilir (Riaunews.com) – Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mulai melakukan upaya penanganan konflik satwa liar di Desa Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir. Sebanyak enam personel diterjunkan ke lokasi untuk memantau kemunculan harimau Sumatera yang telah meresahkan warga selama lima hari terakhir.
Kepala Desa Danai, Halim, mengatakan tim yang dipimpin Bambang Santoso memasang kamera jebak (camera trap) di Dusun Bukit, Rabu (29/7/2026). Kawasan tersebut dipilih karena ditemukan jejak harimau dan merupakan area semak belukar serta bekas perkebunan kelapa yang sudah tidak produktif, sekitar empat kilometer dari permukiman Desa Danai.
“Sudah dipasang kamera tadi di Dusun Bukit,” kata Halim.
Selain memasang camera trap sekitar pukul 15.00 WIB, tim BBKSDA juga melakukan pemantauan menggunakan drone di sekitar Dusun Bukit. Namun, hingga pemantauan selesai belum ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau di lokasi.
Menurut Halim, pada siang harinya sekitar pukul 13.00 WIB, seorang warga sempat melihat seekor harimau Sumatera di kawasan Dusun Bukit. Sementara berdasarkan jejak kaki yang ditemukan, diduga terdapat dua ekor harimau karena ukuran tapaknya berbeda.
“Tadi ada warga melihat harimau di Dusun Bukit, satu ekor. Tapi kalau melihat jejaknya diperkirakan ada dua ekor. Karena dari bekas tapak harimau itu ada yang besar ada juga yang kecil,” ujarnya.
Pemantauan Terus Dilakukan
Halim mengatakan tim BBKSDA yang baru tiba dari Pekanbaru memutuskan beristirahat setelah memasang peralatan pemantauan. Kegiatan akan dilanjutkan pada keesokan hari, termasuk memeriksa hasil rekaman camera trap yang telah dipasang.
“Besok pagi kita lanjutkan lagi,” katanya.
Teror kemunculan harimau Sumatera di Desa Danai telah berlangsung selama lima hari terakhir. Selain membuat warga takut beraktivitas di kebun, seekor sapi milik warga dilaporkan menjadi korban serangan satwa dilindungi tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir telah mengalihkan kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi sistem daring demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Halim berharap BBKSDA dapat segera menangani konflik satwa tersebut agar aktivitas masyarakat kembali normal.
“Mudah-mudahan persoalan ini bisa cepat ditangani oleh BBKSDA. Karena sekarang ini orang-orang takut berkebun. Anak-anak juga tidak bisa bersekolah seperti biasa,” tutup Halim.
