Pekanbaru (RIaunews.com) – Transformasi digital dan pergeseran pola konsumsi masyarakat dari belanja konvensional ke daring menghadirkan tantangan besar bagi pedagang pakaian di pasar tradisional. Kondisi ini turut dirasakan para pedagang busana di Sukaramai Trade Centre, Pekanbaru, yang harus menghadapi penurunan omzet hingga ancaman keberlangsungan usaha.
Untuk bertahan, para pedagang melakukan berbagai strategi, mulai dari memperbarui model pakaian mengikuti tren, meningkatkan pelayanan kepada pembeli, hingga memanfaatkan modal sosial seperti kepercayaan pelanggan dan jaringan. Selain itu, sebagian pedagang mulai mengadopsi model hybrid dengan menggabungkan penjualan langsung di toko fisik dan platform digital.
Salah satu pedagang, Murningsih, mengaku tetap optimistis menjalankan usahanya meski tren belanja online terus meningkat. Ia menyebut penjualan di pasar tradisional masih relatif stabil.
“Alhamdulillah penjualan kami masih normal seperti biasa, sehari saya bisa menjual baju senilai Rp750 ribu dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Ia menambahkan, momentum hari besar seperti Idulfitri bahkan mampu meningkatkan keuntungan hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Adaptasi Penjualan Online dan Offline
Murningsih mengatakan, adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen menjadi hal penting agar pedagang tidak tertinggal. Ia kini memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Dengan adanya platform digital ini tentu lebih memudahkan kita untuk menjangkau pasar lebih luas lagi,” katanya.
Ia juga mengaku telah memanfaatkan penjualan online melalui sejumlah platform seperti Shopee dan TikTok. Menurutnya, kombinasi penjualan online dan offline mampu meningkatkan peluang keuntungan.
Selain itu, ia menilai pasar tradisional masih memiliki keunggulan yang tidak dimiliki toko daring, seperti konsumen dapat melihat langsung kualitas barang, mencoba ukuran, dan memastikan kesesuaian produk.
“Keunggulan ini harus terus dipromosikan dan dipertahankan agar pasar tradisional tetap ramai dan tidak hilang ditelan waktu,” pungkasnya.
