Pakar IPB: Program Makan Bergizi Gratis Bukan Beban Pendidikan, tapi Fondasi SDM

Nasional, Pendidikan192 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB, Prof Dr Ahmad Sulaeman, menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semestinya dipersepsikan sebagai beban sektor pendidikan. Menurutnya, MBG justru merupakan bagian yang saling berkesinambungan dengan pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi muda.

Ahmad menilai anggapan yang mempertentangkan MBG dengan peran guru sebagai kekeliruan. Ia menekankan bahwa pendidikan dan pemenuhan gizi harus berjalan beriringan karena keduanya sama-sama berkontribusi dalam membangun nasionalisme dan mengentaskan kemiskinan. Anak yang tercukupi gizinya dinilai memiliki kesiapan belajar yang lebih baik.

Ia menjelaskan, berbagai kajian ilmiah menunjukkan pemenuhan gizi harian berpengaruh langsung terhadap kemampuan kognitif, konsentrasi, daya ingat, serta prestasi akademik anak. Karena itu, MBG dipandang sebagai suplemen pendidikan, bukan kompetitor bagi program pembelajaran di sekolah.

Praktik serupa, kata Ahmad, telah lama diterapkan di negara maju seperti Amerika Serikat melalui School Breakfast Program dan National Lunch Program. Program makan sekolah tersebut menjadi bagian kebijakan nasional untuk memastikan kesehatan sekaligus kesiapan belajar peserta didik.

Selain berdampak pada siswa, MBG juga dinilai memiliki efek pengganda bagi perekonomian. Jika dirancang matang, program ini berpotensi melibatkan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok, sehingga turut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch, Iskandar Sitorus, yang menilai mempertentangkan pendidikan dan MBG sebagai kekeliruan logika. Menurutnya, pemenuhan gizi merupakan fondasi pendidikan karena anak tidak akan mampu belajar optimal dengan kondisi nutrisi yang buruk.