Menag Dorong Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Arah Baru Pendidikan Islam

Nasional, Pendidikan184 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai fondasi pendidikan Islam di masa depan. Menurutnya, kurikulum bukan sekadar perangkat akademik, melainkan instrumen strategis dalam membentuk karakter umat dan arah peradaban.

Menag menegaskan, kualitas umat di masa depan sangat ditentukan oleh kurikulum yang dirancang hari ini. Karena itu, pendidikan Islam perlu diarahkan pada nilai-nilai kasih sayang, empati, dan kemanusiaan, bukan semata penguasaan aspek formal keagamaan.

Ia memaparkan lima transformasi utama pendidikan Islam ke depan. Di antaranya pergeseran dari teologi yang maskulin dan konfrontatif menuju teologi yang merawat dan penuh cinta, serta perubahan dari keberagamaan yang kaku secara hukum menuju pemahaman nilai dan substansi ajaran.

Transformasi lainnya mencakup peralihan dari cara pandang antroposentris ke ekoteologi, pola pikir atomistik ke holistik, serta dari sekadar religiousness menuju religious mindedness, yakni menjadikan agama sebagai kompas moral yang membebaskan dan mendorong kreativitas.

“Pendidikan tanpa cinta kehilangan ruhnya. Agama seharusnya membebaskan manusia untuk berkreasi dan berkontribusi bagi peradaban,” ujar Nasaruddin. Ia juga menilai praktik pendidikan di negara maju yang menempatkan guru, murid, dan orang tua dalam relasi setara relevan diterapkan dalam pendidikan Islam.

Menutup pernyataannya, Menag mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyempurnakan kurikulum pendidikan Islam secara konseptual dan kontekstual. Ia menekankan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai proses berkelanjutan untuk melahirkan insan kamil yang beriman, berilmu, dan berkeadaban.