Jakarta (Riaunews.ccom) – Asosiasi Floorball Indonesia (AFI) Jakarta menggelar penataran wasit, pelatih, dan manajemen pertandingan selama tiga hari, 19–21 Desember 2025, di Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2026.
Penataran dilaksanakan secara bertahap. Hari pertama diisi dengan seremonial pembukaan melalui Zoom Meeting. Hari kedua dilanjutkan dengan pemaparan teori oleh para pemateri di Kampus 1 Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA). Sementara hari ketiga difokuskan pada praktik lapangan di GOR TS Futsal Jakarta. Kegiatan ini diikuti seratusan peserta dari berbagai wilayah Jabodetabek.
Ketua Umum AFI Jakarta Dr. Misbah Fikrianto, MM., M.Si., M.Pd., mengatakan penataran tersebut merupakan bagian dari rencana kerja AFI DKI Jakarta untuk melahirkan atlet-atlet floorball berbakat yang mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus mensosialisasikan olahraga floorball kepada masyarakat luas.
“Floorball masih tergolong cabang olahraga baru di Tanah Air, namun perkembangannya semakin pesat. Pada PON XXI Medan–Aceh lalu, floorball sudah mengikuti pertandingan ekshibisi, dan insya Allah pada PON XXII NTT nanti bisa menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan penuh,” ujar Misbah, yang juga menjabat sebagai Dekan FKIP UIA.
Misbah menambahkan, pesatnya perkembangan floorball menuntut ketersediaan pelatih, wasit, dan manajer pertandingan yang andal agar pembinaan atlet berjalan terarah dan kompetisi dapat diselenggarakan secara berkesinambungan.
“Untuk itu, asosiasi sangat memerlukan pelatih, wasit, dan manajer pertandingan yang kompeten agar perkembangan floorball yang pesat ini bisa melahirkan atlet-atlet berbakat serta turnamen yang terselenggara dengan baik,” katanya.
Menurut Misbah, dalam waktu dekat AFI, baik di tingkat nasional maupun AFI Jakarta, akan menyelenggarakan sejumlah agenda, salah satunya kejuaraan nasional pada awal 2026.
“Saya belum tahu lokasi pertandingannya di mana, tetapi saya ingin AFI Jakarta dapat menuai prestasi terbaiknya. Selain itu, saat ini juga sedang diupayakan agar cabang olahraga floorball bisa mengikuti turnamen Paralimpiade untuk penyandang disabilitas. Semua ini membutuhkan pelatih, wasit, dan manajer pertandingan yang andal. Maka penataran ini sangat besar manfaatnya,” tambah Misbah, yang beberapa bulan lalu kembali terpilih sebagai Ketua Umum AFI DKI Jakarta untuk kedua kalinya.
Antusias Peserta
Pada hari kedua penataran yang digelar di Kampus UIA, kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat. Para peserta yang umumnya terdiri dari pelatih atau calon pelatih di sekolah, kampus, dan klub terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sejak pagi hingga sore hari. Berbagai pertanyaan mendasar hingga pendapat silih berganti disampaikan peserta.
Pada sesi tersebut, materi disampaikan oleh pelatih nasional yang juga Sekretaris Jenderal AFI Jakarta, Julfikar, M.Pd.Or, serta Kelik Wibawa.
Julfikar memaparkan cara memanajemen event atau turnamen floorball agar dapat berjalan dengan baik dan sukses. Ia menjelaskan tahapan yang harus dilakukan, mulai dari pembentukan panitia, pemilihan sumber daya manusia yang kompeten, penunjukan wasit, penanganan komplain selama pertandingan, hingga evaluasi pascaturnamen.
“Semua itu membutuhkan skill dan orang-orang yang ahli di bidangnya. Tidak bisa sembarang mengambil orang untuk menduduki posisi tertentu, apalagi jika orang tersebut tidak paham berorganisasi,” ujar Julfikar yang akrab disapa Bang Jul.
Sementara itu, pelatih nasional Kelik Wibawa, yang kerap memimpin atlet-atlet floorball Indonesia dalam berbagai ajang internasional, menjelaskan secara rinci teknik permainan serta keterampilan dasar yang harus dimiliki atlet dan pelatih. Ia juga membagikan sejumlah pengalamannya saat membawa tim Indonesia bertanding di luar negeri.
Menurut Kelik, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan dunia dalam olahraga floorball. Bibit atlet dinilai cukup banyak dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Di tingkat nasional, ia mengakui tim-tim dari Pulau Jawa masih mendominasi, dengan Jawa Timur sebagai daerah yang perkembangannya paling pesat. Namun kondisi tersebut bisa berubah karena daerah lain juga terus aktif melakukan pembinaan.
Ia berharap para pelatih, calon pelatih, manajer pertandingan, dan wasit yang mengikuti penataran dapat membina atlet secara optimal.
“Bukan hanya skill, tetapi juga mental dan attitude. Saat saya memilih atlet untuk mengikuti turnamen internasional, attitude menjadi salah satu indikator penting karena sangat berpengaruh terhadap soliditas tim,” ujar Kelik. (*/Afit)
