CEO Nvidia: China Bisa Kalahkan AS dalam Perlombaan AI Jika Inovasi Terhambat Regulasi

Internasional, Sains334 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – CEO Nvidia Jensen Huang memperingatkan bahwa China bergerak cepat menuju dominasi global dalam kecerdasan buatan (AI) dan berpotensi mengalahkan Amerika Serikat (AS) jika Negeri Paman Sam terus memperlambat inovasi melalui regulasi ketat dan pembatasan ekspor teknologi.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari Gizmochina, Sabtu (8/11/2025), Huang menegaskan bahwa negara-negara Barat harus mempercepat pengembangan AI, bukan membatasi kemajuannya. “Sangat penting bagi Amerika untuk menang dengan berlari lebih cepat dan memenangkan pengembang di seluruh dunia,” ujarnya.

Huang menilai, subsidi energi dan dukungan kuat dari pemerintah China telah mempercepat pertumbuhan perusahaan lokal di sektor AI dan semikonduktor. Kombinasi antara investasi besar dalam riset dan kebijakan nasional yang terarah menciptakan ekosistem teknologi yang kini mampu menyaingi AS dalam skala dan ambisi.

Meski menghadapi keterbatasan akses terhadap teknologi cip canggih, Huang mengatakan komunitas pengembang di China sangat termotivasi dan bersatu dalam misi kemandirian AI nasional. Ia menilai pembatasan ekspor cip AI buatan AS justru berpotensi menjadi bumerang.

Pemerintah AS baru-baru ini kembali melarang penjualan cip AI seri Blackwell Nvidia ke China dengan alasan keamanan nasional. Huang menilai kebijakan tersebut menghambat daya saing industri AS dan mendorong China untuk mempercepat pengembangan cip buatan sendiri.

“Sikap sinis dan regulasi berlebihan membuat perusahaan Amerika sulit bergerak cepat,” tegas Huang. Ia menambahkan, “Kami ingin Amerika menang. Menang berarti membangun lebih cepat, bukan membangun tembok.”

Pernyataan Huang mencerminkan meningkatnya ketegangan antara AS dan China di sektor teknologi tinggi, di mana kedua negara kini berlomba menjadi pemimpin global dalam pengembangan kecerdasan buatan dan manufaktur semikonduktor.