Jakarta (Riaunews.com) – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Proyek ini dipandang strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG yang selama ini menjadi salah satu beban neraca energi nasional.
Proyek hilirisasi DME tersebut termasuk dalam daftar 18 proyek hilirisasi yang telah diserahkan ke Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Seluruh proyek ini diproyeksikan menjadi motor penggerak transformasi energi sekaligus peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Erani Yustika, menyebut bahwa hilirisasi batu bara menjadi DME menjadi salah satu proyek prioritas untuk segera dieksekusi. Menurutnya, langkah ini selaras dengan agenda pemerintah dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
“Proyek hilirisasi yang akan didorong salah satunya adalah pengembangan batu bara menjadi DME. Ini bisa menjadi solusi pengganti LPG impor,” ujar Erani, Jumat (19/9/2025).
Selama ini, kebutuhan LPG di Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan impor. Data Kementerian ESDM mencatat, lebih dari 70 persen konsumsi LPG nasional berasal dari luar negeri, sehingga berpengaruh besar terhadap devisa negara dan stabilitas pasokan energi rumah tangga.
Dengan terealisasinya proyek DME, pemerintah berharap tidak hanya mengurangi beban impor, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor energi. Hilirisasi ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal serta memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah penghasil batu bara.
