Tak Cukup Sarjana, Mengapa Pengalaman Organisasi Menjadi Penyelamat di Era Kerja AI?

Opini, Pendidikan37 Dilihat

By: Assyifa Queen Zahabya

Pernah ga sih kamu kepikiran pas lagi ikutan prosesi wisuda, melihat ribuan orang pakai toga, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan random di kepala: “Setelah ini, kita semua mau kerja di mana?”

Bagi kita yang menyandang status mahasiswa, momen wisuda sering kali dianggap sebagai garis finish dari segala lelahnya tugas kuliah, revisi laporan, dan ujian susulan. Kita keluar dari gedung dengan senyum lebar, menggenggam map berisi ijazah, dan IPK yang terpampang gagah. Kita merasa siap menaklukkan dunia kerja. Namun, begitu masuk ke realitas yang sebenarnya, kenyataan di lapangan sering kali menampar kita keras-keras. Pasar kerja saat ini tidak sedang baik-baik saja, dan selembar ijazah sarjana tidak lagi menjadi jaminan otomatis untuk langsung mendapat meja kerja di kantor impian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih berada di kisaran 1,3 juta orang. Di tengah sengitnya persaingan mencari pekerjaan zaman sekarang, memiliki pengalaman praktis di luar kelas menjadi penentu hidup dan mati bagi portofolio kamu. Salah satunya adalah melalui wadah organisasi inilah mahasiswa ditempa untuk menguasai kemampuan kepemimpinan, pemecahan masalah, dan komunikasi nyata.

Badai AI dan Runtuhnya Nilai “Hard Skills” Murni

Ilustrasi Bekerja Sama dalam Organisasi (Dok. Pinterest Brent Williams)

Tantangan bagi lulusan kuliah zaman sekarang makin berlipat ganda karena kita hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan atau AI. Beberapa tahun lalu, menguasai keahlian teknis seperti coding dasar, menulis laporan keuangan sederhana, entri data, atau sekadar membuat desain grafis standar sudah cukup untuk membuat CV kita dilirik. Tapi sekarang? AI bisa menyelesaikan tugas-tugas teknis tersebut hanya dalam hitungan detik dengan hasil yang tidak kalah rapi.

Artinya apa? Keahlian akademis murni (hard skills) yang kita hafalkan mati-matian demi ujian semesteran mulai kehilangan daya tawarnya secara drastis. Jika kita hanya mengandalkan nilai di transkrip akademik tanpa memiliki nilai tambah lainnya, posisi kita akan sangat mudah digantikan oleh teknologi otomasi. HRD perusahaan top tidak lagi terkesima melihat kandidat yang cuma pintar menghafal rumus atau teori, karena teknologi bisa melakukan itu jauh lebih cepat. Di sinilah terjadi pergeseran besar: ketika aspek teknis bisa didelegasikan ke AI, maka aspek kemanusiaan dan interaksi sosiallah yang menjadi benteng terakhir kita agar tidak tereliminasi dari pasar kerja.

Mengapa Pengalaman Organisasi adalah “Penyelamat” di Mata HRD?

Ilustrasi Pekerja yang Tak Punya Soft Skill (Dok. Forbes)

Lantas, apa yang dicari HRD kalau bukan sekadar nilai akademis? Jawabannya ada pada soft skills, dan wadah terbaik untuk menempa kemampuan ini semasa kuliah adalah melalui pengalaman organisasi. Organisasi kampus, mulai dari BEM, Himpunan Mahasiswa, pers mahasiswa, hingga panitia pensi kecil-kecilan adalah laboratorium mini dunia kerja yang sebenarnya.

Mari kita lihat dari kacamata global. Dokumen dari World Economic Forum (WEF) dalam laporan terbarunya menyoroti bahwa di tengah masifnya adopsi teknologi, kemampuan interpersonal justru menempati posisi teratas dalam daftar kebutuhan industri [WEF]. Kemampuan seperti Kepemimpinan (Leadership), Resiliensi (Kemampuan bangkit dari tekanan), serta Kolaborasi (Teamwork) menjadi tiga pilar utama yang paling diburu oleh ribuan pemberi kerja di seluruh dunia [WEF]. Menariknya, skil-skil premium ini tidak memiliki mata kuliah formalnya di kelas. Kamu tidak bisa menjadi pemimpin yang andal hanya dengan membaca buku teori kepemimpinan setebal 500 halaman. Kamu harus mengalaminya langsung.

Ketika kamu aktif di organisasi, kamu dipaksa untuk keluar dari zona nyaman. Kamu akan belajar bagaimana caranya menurunkan ego saat berdebat di ruang rapat, bagaimana meyakinkan sponsor saat mengurus dana usaha (danus), hingga bagaimana mengelola konflik internal seperti memberi tindakan kepada anggoa yang berbuat salah maupun yang mendadak ghosting menjelang hari-H acara. Bagi HRD, kandidat yang pernah menghadapi situasi-situasi pelik seperti ini jauh lebih matang secara mental. Mereka tahu bahwa ketika orang tersebut dihadapkan pada tekanan deadline kantor atau klien yang rewel, mereka tidak akan mudah tumbang karena mentalnya sudah terlatih sejak di kampus.

Tidak Semua Organisasi Itu Worth It untuk Diikuti

Ilustrasi Kerja Sama Tim (Dok. Jobstreet)

Namun, sebagai akademisi, kita juga harus bersikap realistis, objektif, dan kritis dalam memilah wadah pengembangan diri. Meskipun berorganisasi memiliki nilai urgensi yang tinggi, bukan berarti seorang mahasiswa harus mendaftarkan diri ke berbagai organisasi secara serampangan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua organisasi bernilai tinggi (worth it) untuk dijalani. Saat ini, tidak sedikit organisasi kampus yang justru terjebak di dalam lingkaran setan budaya kerja yang tidak sehat (toxic culture).

Sebagai contoh, adanya kebiasaan rapat tanpa agenda jelas yang diulur hingga larut malam hanya untuk membahas persoalan minor, penerapan senioritas subjektif, atau organisasi yang sekadar fokus pada pencitraan visual di media sosial namun minim realisasi program kerja yang berdampak nyata.

Perlu dicatat baik-baik, HRD tidak asal menghitung jumlah nama organisasi yang kamu jajarkan di CV. Alih-alih menjadi pencari sertifikat massal, pilihlah organisasi secara strategis yang benar-benar memberikan ruang bagi kamu untuk bertumbuh dan berkontribusi secara nyata. Lebih baik memegang satu atau dua jabatan penting yang menghasilkan portofolio konkret daripada punya belasan sertifikat kepanitiaan tapi kamu tidak belajar apa-apa dari sana.

Waktunya Berubah dari Mahasiswa Kupu-Kupu

Ilustrasi Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Tugas (Dok. Universitas Multimedia Nusantara)

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita masing-masing selama memegang status sebagai mahasiswa. Kita bisa memilih untuk menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang, kuliah-pulang) yang hidup nyaman di dalam cangkang akademis, meraih IPK sempurna, namun gagap saat harus berinteraksi dan memimpin manusia di dunia nyata. Atau, kita bisa memilih untuk sedikit lebih lelah: membagi waktu antara perpustakaan dan ruang sekretariat organisasi, belajar menyeimbangkan prioritas, dan menempa diri menghadapi dinamika kelompok.

Di era di mana kecerdasan buatan siap merebut pekerjaan-pekerjaan berbasis teori, pengalaman organisasi adalah investasi portofolio terbaik yang bisa kamu bangun sebelum lulus. Gelar sarjana mungkin bisa mengantarkan CV-mu lolos dari sistem penyaringan awal rekrutmen, tetapi karakter, kematangan emosional, dan kemampuanmu dalam bekerja sama dengan manusialah yang akan memenangkan hati HRD pada akhirnya. Jadi, selagi status mahasiswa masih melekat di dadamu, jangan cuma penuhi otakmu dengan teori kelas, tapi turunlah ke lapangan dan tempa dirimu di sana!

Komentar