Riset BRIN Ungkap Emisi Karbon Lamun Tertinggi Terjadi di Jawa dan Sumatra

Lingkungan, Nasional217 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia tidak merata. Wilayah Jawa dan sebagian Sumatra tercatat memiliki faktor emisi karbon tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lain, seiring tingginya tekanan aktivitas manusia di wilayah tersebut.

Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Aan Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa selama ini kajian karbon biru kerap hanya menitikberatkan pada kemampuan ekosistem pesisir dalam menyerap karbon. Padahal, dalam carbon accounting, aspek emisi atau pelepasan karbon ke atmosfer juga menjadi komponen penting yang harus dihitung.

Dalam riset ini, BRIN menggunakan pendekatan faktor emisi karbon lamun, yakni angka yang menggambarkan jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer per hektare per tahun akibat degradasi ekosistem. Selain itu, digunakan pula metode chronosequence modeling dengan membandingkan padang lamun yang masih sehat dan yang telah terdegradasi untuk melihat perubahan cadangan karbon dari waktu ke waktu.

Hasil analisis menunjukkan faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah Jawa dan sebagian Sumatra yang memiliki tekanan pesisir tinggi, sementara wilayah seperti Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan angka emisi yang relatif lebih rendah.

Aan menegaskan, tekanan antropogenik seperti reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi di kawasan padat penduduk berperan besar dalam meningkatkan emisi karbon lamun. Meski lamun mampu menyaring sedimen, kemampuan tersebut memiliki batas dan dapat terganggu jika beban lingkungan terlalu besar.

Ketika lamun dalam kondisi sehat, ekosistem ini berfungsi menyerap dan menyimpan karbon. Namun, saat mengalami kerusakan, proses pembusukan daun dan akar lamun justru melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perlindungan ekosistem lamun, tidak hanya sebagai penyerap karbon, tetapi juga untuk mencegah lonjakan emisi karbon dari wilayah pesisir.