China Terapkan Aturan Ketat Daur Ulang Baterai EV

Lingkungan, Otomatif172 Dilihat

Pekanbaru (Riaunews.com) – Pemerintah China resmi memberlakukan aturan ketat terkait daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang akan mulai berlaku pada 1 April 2026. Kebijakan ini antara lain mewajibkan baterai tetap melekat pada kendaraan saat proses rongsok (scrapping), guna mengendalikan peredaran baterai bekas dan meningkatkan keselamatan serta keterlacakan, seperti dilaporkan Car News China, Sabtu (17/1/2026).

Sebelumnya, industri daur ulang baterai EV di China menghadapi tantangan serius, mulai dari keterbatasan infrastruktur, risiko kebakaran, hingga mahalnya biaya pembongkaran akibat desain baterai yang belum terstandarisasi. Meski demikian, China tetap memimpin sektor ini sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia, bahkan pada Oktober 2025 sejumlah perusahaan lokal dilaporkan mampu memulihkan hingga 96,5 persen lithium serta 99,6 persen nikel, kobalt, dan mangan dari baterai bekas.

Dalam aturan baru tersebut, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) akan membangun platform informasi nasional untuk melacak baterai kendaraan energi baru (NEV) sepanjang siklus hidupnya, mulai dari produksi hingga daur ulang. Sistem ini ditujukan untuk mencegah hilangnya jejak distribusi baterai bekas dan memperkuat pengawasan.

Pemerintah China juga mewajibkan produsen dan importir baterai EV menggunakan material rendah toksik dan mudah didaur ulang, serta memberi identitas pada setiap baterai sesuai standar GB/T 34014. Selain itu, mereka harus menyerahkan informasi teknis pembongkaran baterai paling lambat enam bulan setelah sertifikasi produk diperoleh.

Produsen, importir, dan penjual kendaraan listrik diwajibkan mendirikan stasiun layanan daur ulang di wilayah pemasaran serta menerima seluruh baterai bekas yang wajib didaur ulang. Pemanfaatan ulang baterai juga harus sesuai dengan hukum dan standar yang berlaku, serta tidak boleh dilakukan tanpa izin resmi.

Menurut lembaga riset di China, volume baterai EV yang memasuki masa pensiun diperkirakan mencapai 1 juta ton pada 2030. Nilai pasar daur ulang baterai di negara tersebut telah menyentuh 558 miliar yuan atau sekitar US$78 miliar. Saat ini, Brunp Recycling—anak usaha CATL—menjadi pemain dominan dengan pangsa pasar 50,4 persen dan kapasitas pengolahan limbah mencapai 120.000 ton.