Paris (Riaunews.com) – Ratusan petani Prancis menggelar aksi protes besar-besaran di Paris, Selasa (13/1/2026), dengan mengerahkan sekitar 350 traktor. Aksi ini dilakukan untuk menentang perjanjian dagang Uni Eropa–Mercosur yang dijadwalkan ditandatangani pada Sabtu (17/1/2026) di Paraguay, seperti dilaporkan Euronews.
Sejak pukul 06.00 waktu setempat, iring-iringan traktor memasuki Paris melalui Porte Dauphine dengan pengawalan ketat polisi. Konvoi bergerak melewati Avenue Foch, Arc de Triomphe, Champs-Élysées, menyeberangi Sungai Seine, dan berakhir di sekitar gedung Majelis Nasional, memicu kemacetan parah di sejumlah ruas jalan utama.
Aksi tersebut dipimpin serikat petani FNSEA dan Jeunes Agriculteurs. Para demonstran menuntut langkah konkret pemerintah untuk melindungi ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani. Mereka menilai perjanjian UE–Mercosur berpotensi membanjiri pasar Eropa dengan produk pertanian murah dari Amerika Selatan.
Petani juga mengkhawatirkan standar produksi negara-negara Mercosur yang dinilai tidak selalu setara dengan standar ketat Uni Eropa. Perjanjian ini mencakup pembentukan kawasan perdagangan bebas antara UE dengan Argentina, Brasil, Uruguay, dan Paraguay.
Meski mendapat penolakan dari Prancis, Polandia, Austria, Hungaria, dan Irlandia, perjanjian tersebut telah memperoleh persetujuan mayoritas berkualifikasi negara anggota Uni Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menyatakan penolakan, namun proses penandatanganan diperkirakan tetap berjalan.
Pemerintah Prancis mengakui kemarahan petani dan menyebut tuntutan mereka sah. Menteri Pertanian telah mengumumkan paket bantuan senilai €300 juta atau sekitar Rp5,8 triliun, namun kebijakan itu dinilai belum cukup meredam aksi. Di sejumlah pelabuhan utama, petani juga melakukan blokade dan pemeriksaan truk impor sebagai bentuk tekanan terhadap kebijakan perdagangan Uni Eropa.
