Doha (Riaunews.com) – Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa perang di Sudan kini semakin di luar kendali setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota el-Fasher di wilayah Darfur. Dalam pidatonya di Qatar, Guterres menyerukan gencatan senjata segera demi menghentikan penderitaan warga sipil.
Melansir dari NBC News, Rabu (5/11/2025), kota el-Fasher telah lama terkepung dan dilanda kelaparan ekstrem. Guterres menyebut konflik yang telah berlangsung dua tahun ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana ratusan ribu warga sipil terjebak dalam pengepungan dan banyak meninggal akibat kekurangan gizi, penyakit, dan kekerasan.
Ia juga menyoroti laporan kredibel tentang eksekusi massal oleh RSF, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 450 orang di sebuah rumah sakit di el-Fasher. RSF dituduh melakukan pembunuhan etnis dan kekerasan seksual terhadap warga sipil. Kota tersebut telah terisolasi selama 18 bulan, memutus akses terhadap makanan dan bantuan kemanusiaan bagi puluhan ribu orang.
Meskipun RSF membantah tuduhan itu, bukti lapangan seperti kesaksian pengungsi, video daring, dan citra satelit menunjukkan adanya serangan brutal. Skala sebenarnya dari kekerasan masih belum diketahui akibat terbatasnya komunikasi di wilayah tersebut.
Menurut badan migrasi PBB, sekitar 71.000 orang telah mengungsi sejak RSF menguasai el-Fasher, dan sebagian berhasil mencapai kamp pengungsian di Tawila yang berjarak 65 kilometer dari kota tersebut.
Guterres menegaskan perlunya persatuan komunitas internasional untuk menghentikan pertempuran, menghentikan pasokan senjata ke Sudan, serta memastikan adanya mekanisme akuntabilitas bagi para pelaku kejahatan perang yang bertanggung jawab atas kekejaman di Darfur.
