BNPB Peringatkan Potensi Anomali Cuaca di Tengah Puncak Kemarau

Lingkungan, Nasional600 Dilihat

Jakarta (Riaunews.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi anomali cuaca di sejumlah wilayah Indonesia, meskipun saat ini berada pada puncak musim kemarau. Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan angin kencang dilaporkan terjadi di Provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (1/8/2025), menyampaikan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini harus diwaspadai pemerintah daerah dan masyarakat. “Bencana hidrometeorologi basah terjadi di tengah musim kemarau, kepada seluruh pemda dan masyarakat untuk waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.

Salah satu contoh kejadian terjadi di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis (31/7) malam menyebabkan banjir yang merendam 206 unit rumah, satu kantor desa, satu balai desa, lima akses jalan, satu fasilitas pendidikan, serta satu jembatan gantung. Dampak tersebut tersebar di sejumlah kecamatan seperti Sukaraja, Air Periukan, Lubuk Sandi, Seluma Barat, Seluma, dan Seluma Utara.

Hujan deras juga menyebabkan meluapnya air sungai di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, khususnya di Kecamatan Baturaja Timur dan Baturaja Barat. Akibatnya, 82 kepala keluarga atau 322 warga terdampak banjir. Pada saat bersamaan, petugas juga harus menangani kejadian kebakaran lahan di wilayah tersebut.

Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada Rabu (30/7). Sebanyak 41 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan. Warga bersama tim gabungan saat ini masih melakukan pembersihan puing dan perbaikan rumah secara gotong royong.

Menurut Abdul, rentetan kejadian ini menunjukkan pentingnya penguatan upaya mitigasi, seperti pembersihan saluran drainase dan pemangkasan pohon rapuh. Ia juga menekankan pentingnya sosialisasi larangan pembukaan lahan dengan cara dibakar, guna meminimalkan risiko bencana di masa puncak kemarau Juli–Agustus ini.