Alwend, Putra Melayu sang penyambung kata dan budaya

Profil1989 Dilihat

Pekanbaru (RiauNews.com) – Di balik panggung seminar yang gemerlap dan aula pelatihan yang penuh semangat, berdiri seorang pria bersahaja dengan baju Teluk Belanga yang anggun, tatapan mata penuh percaya diri, dan senyum yang menyambut siapa pun yang hadir.

Wewendra Al Rasyid namanya. Namun, di telinga para peserta pelatihan dan seminar di berbagai penjuru negeri, ia lebih dikenal sebagai Alwend, nama yang kini menjadi ikon dalam dunia komunikasi dan pengembangan diri di Indonesia.

Lahir di Bukittinggi, 24 Maret 1979, Alwend tumbuh besar di tanah Melayu, Tanjungpinang. Dari SDN 006 hingga SMEA Negeri Tanjungpinang, jejak langkah pendidikannya mengakar kuat di Bumi Lancang Kuning.

Di sana pula, bakatnya mulai terasah—bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di arena kompetisi. Saat remaja, ia sudah mewakili Provinsi Riau dalam Lomba Keterampilan Siswa Tingkat Nasional di Sawangan, Bogor, sebuah pencapaian yang menjadi awal dari kisah panjangnya sebagai sosok pembelajar sejati.

Jalan hidup Alwend bukanlah garis lurus. Ia menempuh pendidikan tinggi mulai dari D1 IPI Komputer Pekanbaru, lalu S1 Ilmu Komunikasi di UIN Suska, hingga meraih gelar Magister Manajemen dari Unilak Pekanbaru. Tetapi pembentukan karakternya bukan hanya berasal dari kampus-kampus itu. Dunia kerja adalah universitas kehidupan yang mengasahnya dengan peluh dan tantangan nyata.

Sebelum ia menjadi pembicara yang dielu-elukan di aula pertemuan dan pelatihan perusahaan besar, Alwend adalah seorang penyiar radio di Clapita Radio. Suaranya menemani pendengar malam hari, sekaligus membentuk kepekaannya dalam merangkai kata dan membangun koneksi emosional. Dari sana, ia juga menjajal dunia sebagai MC, penyanyi profesional, guru, dosen, bahkan instruktur komputer. Dunia seolah tak memberi batas baginya, kariernya menjalar dari ruang siar ke ruang kelas, dari panggung hiburan ke ruang rapat korporat.

Jabatan demi jabatan ia duduki dengan tekun dan tangguh, Head Sales Nokia Riau, Branch Manager KTM Motor, hingga memimpin cabang XL Axiata di Riau. Namun, di tengah gemerlap dunia korporat, ada satu suara di dalam dirinya yang terus memanggil, untuk kembali ke akar, untuk berbagi ilmu dan pengalaman, dan untuk menjadi penyambung pesan, bukan hanya dalam komunikasi bisnis, tapi juga dalam pengembangan manusia.

Pada tahun 2019, panggilan itu menjelma menjadi OXAL ACADEMY. Bukan sekadar lembaga pelatihan, tetapi sebuah ruang pengabdian yang berfokus pada seni berbicara, public speaking, sebagai kunci membangun kepercayaan diri. Sejak awal, OXAL ACADEMY bukan hanya tempat belajar, tapi juga rumah bagi mereka yang ingin mengenali kekuatan diri melalui kata-kata. Berkat visi dan dedikasi Alwend, lembaga ini melebarkan sayapnya ke Jakarta pada 2022, menandai babak baru ekspansi ke jantung Indonesia.

Dalam setiap seminar dan pelatihan, di hadapan siswa sekolah, mahasiswa kampus, karyawan perusahaan, hingga pejabat pemerintah, Alwend hadir bukan hanya sebagai pengajar. Ia hadir sebagai teladan. Dengan gaya penyampaian yang karismatik, kisah hidup yang membumi, dan energi yang tak lekang oleh waktu, ia tak hanya mengajarkan teknik komunikasi, tapi juga menyulut semangat perubahan dalam diri tiap individu yang hadir.

Namun, ada satu hal yang paling mencolok dari sosoknya. Di tengah tren jas formal dan dasi elegan, Alwend selalu hadir dengan baju Teluk Belanga, simbol kebesaran budaya Melayu Riau. Dalam tiap penampilan, ia membungkus kata dengan kebanggaan.

“Saya bangga menjadi putra Melayu Riau,” katanya mantap.

Bagi Alwend, public speaking bukan hanya soal teknik berbicara, tapi juga tentang menyampaikan identitas, nilai, dan cinta pada akar budaya.

Wewendra Al Rasyid, atau Alwend, adalah bukti nyata bahwa suara bisa menjadi kekuatan, dan kata bisa menjadi jalan pulang. Dari studio radio hingga ruang seminar nasional, dari panggung seni hingga panggung perubahan diri, ia telah menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya alat, tapi juga warisan. Dan dalam setiap warisan, ada tanggung jawab untuk meneruskannya.

Di tangan Alwend, warisan itu tak hanya hidup, tapi juga menginspirasi.