21 Agustus 2018
Home / Spesial Riau / Kampar / Matankari Meminta Bupati Kampar Gesa Perda Cagar Budaya

Matankari Meminta Bupati Kampar Gesa Perda Cagar Budaya

Batu Candi yang ditemukan ditepi parit galian C ilegal milik warga setempat yang berada di zona 1 ekskavasi komplek Candi Muara Takus. (Kredit: Istimewa)

Bangkinang (RiauNews.com)-Yayasan Matankari Riau milik Siompu Niniok Datuok Ghajo Dubalai selaku pucuk adat Soko, Pisoko jo Limbago kedatuan Muotakui meminta Bupati Kabupaten Kampar membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Cagar Budaya.

“Negara memang sudah memiliki Undang-undang Cagar Budaya (CB) No 11 Tahun 2010. Namun itu tentu belum cukup karena pemerintah provinsi dan kabupaten kota di daerah tidak punya. Perda CB. Satu diantara kabupaten yang belumm punya ya Kampar. Pada hal kita pusat peradaban.” terang Amirullah, Selaku Ketua Yayasan Matankari didampingi tim pendamping dari yayasan untuk ekskavasi oleh BPCB dan Disbud Prov Riau, Sabtu (27/4/2018).



Amir juga menyoroti masalah pembebasan lahan di kawasan zona 1 dan penyangga yg belum tuntas hingga hari ini.

Pada hal dalam UU CB Nasional menyebutkan:

a. Bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

b. Bahwa untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.

c. Bahwa cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya.

d. Bahwa dengan adanya perubahan paradigma pelestarian cagar budaya, diperlukan keseimbangan aspek ideologis, akademis, ekologis, dan ekonomis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kita juga mendesa pihak Balai Pelesterarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar agar melalukan ekskavasi besar-besaran atas ditemukannya situs baru di areal Zona 1 kompleks Candi Muaratakus baru-baru ini,” paparnya.

Dijelaskan Amir beberapa orang tim dari yayasan termasuk pihak ahli waris kedatuan Muotakui onku Suhaimi Zein, Ramadon, Andri dan Jufri sudah sejak dari awal ikut mendampingi pihak BPCB dan tim dari Dinas Kebudayan Provinsi Riau dalam menindaklanjuti ditemukan situs baru dalam kompleks Muotakui.

“Ya bukan karena ditemukan oleh warga lalu dilakukan penelitian dan ekskavasi. Bagaimanapun itu tindakan melawan UU CB.Tetapi harapan kita agar kedepannya dapat bersama-sama dalam upaya membongkar puluhan situs lainnya di areal ini. Kita siap bekerjasama demi terbongkarnya kebanggaan kita yang lainnya. Sebab kita banyak mengantongi masalah info tentang keberadaan situ di kawasan radius 10 KM dari zona inti sekarang,” terang alumnus UR itu.

Candi Ompangan dan candi palantaghan ini adalah pintu masuk ke dalam zona inti.”Ini candi pintu gerbang masuk. Siapapun yang masuk ke dalam komplek ini haruslah melalui candi ompangan dan kemudian baru bisa istirahat di candi Palantaghan.” sebutnya mantan Penyuluh Budaya kemendikbud tersebut. *** (Tien)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: