24 Oktober 2018
Home / News / Nasional / Ini sikap MUI Papua terkait tuntutan Gereja Jayapura

Ini sikap MUI Papua terkait tuntutan Gereja Jayapura

Ketua MUI Papua, Saiful Islam Payage.

Jayapura (RiauNews.com) – Guna mengakhiri polemik yang terjadi antara umat Islam dan Kristen di Jayapura, Papua, yakni ketika Persekutuan Gereja Gereja Jayapura (PGGJ) mempermasalahkan tinggi menara Masjid Al-Aqsha Sentani berikut delapan poin tuntutan, seperti larangan berdakwah dan suara azan yang dikeraskan, Pemda Jayapura memfasilitasi pertemuan antara PGGJ dengan sejumlah ormas Islam, Senin (19/3/2018).

Dilansir oleh laman Republika, Selasa (20/3), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, KH Saiful Islam Payage mengatakan dalam pertemuan tersebut menghasilkan lima sikap yang dirumuskan Dewan Pimpinan MUI Provinsi Papua bersama para pimpinan ormas Islam se-Papua.



Berikut lima sikap MUI Papua terkait dengan tuntutan PGGJ agar pembangunan menara Masjid Agung Al-Aqsha Sentani dihentikan.

Pertama, penyelesaian masalah menara masjid Agung Al-Aqsha Sentani dilakukan dengan dialog dan cara-cara damai.

Kedua, merespons aspirasi dari PGGJ Kabupaten Jayapura, umat Islam bersepakat pembangunan menara masjid Agung Al Aqsha senantiasa memperhatikan asa hukum positif, adat dan norma agama yang berlaku.

Ketiga, terkait dengan delapan poin surat pernyataan PGGJ pada 15 Maret 2018, umat Islam sangat menyesalkan pernyataan tersebut karena dapat meresahkan dan mengganggu kerukunan secara nasional dan bagi kami tetap berkomitmen untuk membangun komunikasi hubungan lintas agama.

Keempat, umat Islam meminta forum komunikasi pimpinan daerah provinsi dan kabupaten/kota se-Papua dapat lebih cepat mengantisipasi potensi gangguan yang terkait hubungan antar umat beragama.

Kelima, umat Islam di Tanah Papua akan tetap berkomitmen menjaga wilayah Kabupaten Jayapura sebagai zona integritas kerukunan yang telah dicanangkan pada 2016 dan Papua Tanah Damai pada 2002.

“Demikian sikap pernyataan ini disampaikan agar menjadi perhatian semua pihak untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama di Papua pada umumnya, khususnya di Jayapura,” kata Payage.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: