21 September 2018
Home / News / Nasional / Bundo Kanduang Minang akan somasi Anne Avantie

Bundo Kanduang Minang akan somasi Anne Avantie

Sophia Latjuba mengenakan busana karya Anne Avantie yang dianggap menodai kebudayaan Minangkabau. (Kredit: Sophia Latjuba/Instagram)

Padang (RiauNews.com) – Pagelaran busana yang dilakukan desainer Anne Avantie terus menuai polemik. Belum habis masalah puisi “Ibu Indonesia” yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap melakukan penistaan terhadap agama Islam, kini giliran sang desainer yang dipermasalahkan masyarakat Sumatera Barat.

Salah satu rancangannya yang dikenakan artis Sophia Latjuba di acara Indonesian Fashion Festival tersebut, dianggap telah menodai budaya Minangkabau. Masalahnya, sang model mengenakan suntiang di kepala –yang merupakan perhiasan kepala perempuan Minang saat resepsi pernikahan– dengan kebaya yang didesain terbuka di bagian dada.



Karena dianggap tidak pantas, sejumlah tokoh adat Minangkabau mengomentari suntiang yang dikenakan Sophia Latjuba tersebut. Hal tersebut bertentangan dengan pakem penggunaan busana dan aksesoris adat Minangkabau yang diharuskan menutup aurat perempuan.

“Kalau memang yang digunakan itu suntiang, jelas melecehkan masyarakat Minangkabau,” kata Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatra Barat, Sayuti Datuak Rajo Panghulu, Ahad (8/4/2018).

Baca: Masyarakat Minangkabau turut laporkan Sukmawati ke polisi

Sayuti prihatin dengam kreasi busana yang ditampilkan Anne. Ia menegaskan, suntiang memiliki fungsi penting dalam upacara pernikahan di Tanah Minang. “Penggunaan pernak-pernik dalam adat Minang harus mengikuti falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang artinya ‘Adat berlandaskan syariat, syariat berlandaskan Kitabullah (Alquran)’.

Sementara itu, laman Republika juga memberitakan Ketua Penasihat Bundo Kanduang Sumatra Barat, Nevi Irwan Prayitno juga telah menyatakan keprihatinannya atas kasus tersebut. Ia menjelaskan, pakaian tradisi Minangkabau tidak boleh dicampur atau dikreasikan dengan bentuk apapun.

“Tak boleh dicampur atau dikreasikan karena setiap busana dari Minang telah berlandaskan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” kata Nevi.

Baca: Guruh bela Sukmawati yang isinya menyinggung cadar dan adzan

Menindaklanjuti hal ini, Nevi berencana mengajukan somasi kepada desainer bersangkutan. Menurutnya, hal ini dilakukan agar hal serupa tidak terulang dan penggunaan busana adat Minangkabau mengikuti aturan adat yang ada.

“Rencananya, somasi itu akan ditandatangani ketua Bundo kanduang dan seluruh pembina Bundo Kandung di seluruh kabupaten/kota, termasuk Pemprov Sumbar,” katanya.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: