23 September 2018
Home / Spesial Riau / Kota Pekanbaru / Bulan, siswi SD penyandang disabilitas berotak encer

Bulan, siswi SD penyandang disabilitas berotak encer

Surat yang ditulis Bulan Karunia Rudianti kepada Presiden Joko Widodo. (Kredit: Instagram)

Pekanbaru (RiauNews.com) – Bulan Karunia Rudianti, siswa SDN 88 Pekanbaru yang baru saja mendapatkan bantuan kursi roda dari Presiden Joko Widodo, Selasa (20/3/2018), ternyata sempat mendapatkan sekolah selama dua tahun karena kondisi fisiknya.

Seperti diketahui, Bulan terlahir tanpa kaki, sehingga sekolah yang pernah didatangi orang tuanya menyarankan agar anaknya tersebut dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB).



“Ada beberapa sekolah menolak Bulan dan disuruh ke SLB (Sekolah Luar Biasa) saja. Saya tak mau karena anak saya hanya fisiknya yang kurang, tapi dia sangat cerdas,” kata Purwanti ibu kandung Bulan sebagaimana dikutip Antara.

Bulan adalah anak ketiga dari pasangan Purwanti dan Rudi Arifin. Ia lahir pada 7 Juli 2007 dalam keadaan tanpa kaki karena diduga terserang virus tokso saat kandungan ibunya berusia delapan bulan.

Diskriminasi pendidikan terhadap anak disabilitas itu berlangsung selama dua tahun. Bulan sempat mencoba sekolah di rumah (home schooling), namun ia tidak betah karena merasa tidak bisa punya banyak teman seperti sekolah pada umumnya.

Bulan Karunia Rudianti memakai kursi roda hadiah Presiden Joko Widodo. (Kredit: Kompas)

Purwanti mengatakan anaknya punya daya tangkap dan rasa keingintahuan tinggi. Sejak kecil Bulan sudah belajar menggunakan komputer dan membantunya mengasah hobi menggambarnya. Bahkan, ia juga belajar berenang secara otodidak meski tanpa kaki.

“Hobinya menggambar dan membuat komik. Dia punya harapan kalau komiknya terjual, uangnya untuk membantu kawan-kawannya yang tidak sanggup beli seragam sekolah,” kata Purwanti.

Bulan akhirnya bisa bersekolah di SDN 88, Kota Pekanbaru, meski terlambat dua tahun dari anak biasanya. Kepala Sekolah SDN 88, Eliana, mengatakan Bulan adalah murid dengan disabilitas pertama yang diterima di sekolah itu.

“Karena ini ditunjuk pemerintah sebagai sekolah inklusi sejak tahun 2016, yaitu sekolah negeri yang menerima anak berkebutuhan khusus, karena itu Bulan bisa bersekolah disini,” kata Eliana.

Meski terlambat mengenyam pendidikan formal, ia menilai Bulan sangat cerdas karena sudah bisa membaca, menulis bahkan cukup pandai berbahasa Inggris.

“Karena sudah pintar, Bulan hanya enam bulan di kelas 1 langsung naik ke kelas 2. Di kelas 2, dia juga hanya enam bulan langsung kelas 3,” katanya.

Pihak sekolah memberikan perlakuan khusus kepada Bulan dengan memperbolehkan menggunakan kursi roda, pelajaran olahraga yang disesuaikan namun tidak membedakan dalam perihal nilai. Meski begitu, nilai akademik Bulan cukup menonjol dibandingkan siswa lainnya yang kondisi fisiknya normal.

“Dia dapat juara dua pada semester 1 di kelasnya sekarang,” kata Eliana.

Sementara itu, Maryati, wali kelas 3B tempat Bulan belajar mengatakan, kepercayaan diri Bulan sangat tinggi dan tidak takut untuk bersaing dengan murid lainnya. Meski pun awalnya Bulan mendapat cemooh dari murid lain karena kondisi fisiknya, namun Bulan tetap sabar. Karena itu, peran guru sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada murid-murid lainnya untuk tidak merudung kondisi fisik Bulan.

“Bahkan, Bulan berani menjadi dirigen memimpin murid bernyanyi ketika upacara bendera. Lebih berani dibandingkan anak lainnya,” kata Maryati.

Kepercayaan diri yang tinggi itu pun memberanikan Bulan menulis surat permohonan kepada Presiden Joko Widodo, yang langsung direspon dengan memberi hadiah sebuah kursi roda baru.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: