Sel 16 Safar 1441 H, 15 Oktober 2019
Home / Spesial Riau / Kampar / Ahli waris minta BPCB Sumbar hentikan penggalian sumur di areal Candi Muaratakus

Ahli waris minta BPCB Sumbar hentikan penggalian sumur di areal Candi Muaratakus

Niniok Datuok Ghajo Dubalai Dt Nasrul.

MUARATAKUS (RiauNews.com)- Niniok Datuok Ghajo Dubalai, selaku pucuok soko pisoko jo limbago Kedatuan Muotakui, meminta Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat (BPCB Sumbar) menghentikan renovasi pembuatan 50 sumur di Komplek Candi Muaratakus.



Alasannya renovasi komplek Candi Muaratakus tidak melibatkan ahli waris sebagai pendamping sehingga dikawatirkan benda-benda artefak yang terkandung didalam tanah tidak tahu dibawa kemana.

“Berapa banyak sejak dahulu dilakukan ekskavasi, hasil benda, artefak kita yang ditemukan tidak tahu kemana saja dibawa, di musium mana saja, benda apa saja yang ditemukan.

“Ini perlu kejelasan. Makanya kita minta museum terlebih dahulu didirikan di Komplek Candi Muaratakus sebelum melakukan ekskavasi dan lainnya. Kita ada manglin, panglimo, para datuk-datuk adat dan penghulu selapan,” terangnya Selasa (11/9/19).

Dt Nasrul selaku Niniok Datuok Ghajo Dubalai mengatakan, mau tidak mau renovasi harus dikerjakan bersama sesuai Tupoksi masing-masing.

“Kalau tidak bersama-bersama dikhawatirkan tindakan dan atau program apapun yang dibuat BPCB, dinas pariwisata dan dinas kebudayaan tidak akan pernah mampu menjadikan komplek Kedatuan Muotakui ini seperti semula.

“Ya harus bersama. Kami selaku pewaris candi ini meminta semua pihak yang terkait mengkomunikasikannya dengam kami. Kami siap bekerjasama. Jangan barang yang sudah diputuskan dibawa ke kami” Ujar pucuok soko pisoko jo limbago andiko 44 itu.

Ketua yayasan matankari, Amirullah, Spd mengatakan, bahwa pentingnya pihak BPCB utk berkoordinasi dengan para ahli waris.

“Ini sudah kita ingatkan sejak tahun 2013 silam. Banyak hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Walaupun pihak BPCB adalah tangan pemerintah pusat untuk urusan cagar budaya, namun sebaiknya bersama-sama dengan ahli waris, selaku pemilik sah candi ini secara turun temurun,” ujar Amirullah.

Ditambahkannya, misalnya penempatan, atau pemetaan arena bermain, pengunjung untuk anak-anak, ini mesti dilihat dan diperhatikan baik-baik. Tidak semua areal atau lokasi bisa dijadikan untuk itu. Apalagi sumur yang notabenenya penggalian, yang mesti paati itu bukan bagian dalam wilayah candi atau situs. Ada tempat-tempat yang disakralkan.

“Ada tempat para Dhatu, para Dewi, para Puti dan lainnya. Hal-hal inilah yang mesti dilakukan koordinasi dengan ahli waris,” Terang mantan penyuluh budaya Kemendikbud itu.***

Pewarta: Tien

Komentar