18 Agustus 2018
Home / Spesial Riau / Anggota Polda Riau yang gugur diserang teroris dikenal religius dan aktif di komunitas sepeda ontel

Anggota Polda Riau yang gugur diserang teroris dikenal religius dan aktif di komunitas sepeda ontel

Ipda Auzar dikenal sebagai pribadi yang religius dan memiliki pesantren untuk anak yatim/kurang mampu.

Pekanbaru (RiauNews.com) – Inspektur Dua Auzar, personel Direktorat Lalu Lintas Polda Riau yang meninggal dalam insiden serangan teroris di Markas Polda Riau, Kota Pekanbaru, Rabu (16/5/2018) pagi, dikenal sebagai sosok religius.

Bahkan, sebelum meninggal ditabrak mobil yang dikendarai teroris saat penyerangan pada Rabu pagi sekitar pukul 09.00 WIB tersebut, korban diketahui baru saja melaksanakan Shalat Dhuha.



“Kita semua merasa kehilangan sosok beliau. Bukan hanya polisi tapi juga ulama dan ustadz di sini,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Riau, Kombes Pol Rudi Syarifudin di Pekanbaru.

Dilansir dari laman Antara, Rudi mengatakan bahwa almarhum Ipda Auzar yang wafat pada usia 55 tahun tersebut memulai karir di Lantas Polda Riau sejak dari Bintara hingga kini menyandang pangkat Ipda.

Selama menjadi anggota Polri, Auzar yang bergelar Haji itu aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Dia diketahui kerap memberikan tausiah hingga disebut sebagai salah satu ustadz yang disegani di internal polisi maupun masyarakat setempat.

Kombes Rudi juga menyebut almarhum memiliki sebuah pesantren dan yayasan anak yatim piatu yang mendidik lebih dari 500 anak kurang beruntung.

Sementara di masyarakat, Ipda Auzar juga dikenal aktif dalam komunitas sepeda ontel.

Ketua Laskar Sepeda Tua Pekanbaru, Fajar Daulay ketika melayat di rumah duka, Rabu, mengatakan almarhum Ipda Auzar sudah lima tahun terakhir aktif dalam komunitas tersebut. Almarhum adalah sosok yang selalu mendukung moral dan meteri untuk komunitas itu.

“Dia selalu dukung segala sesuatu material dan moril dan cinta sama sepeda ontel. Dia tidak malu pake baju dinas polisinya setiap kegiatan, terutama saat Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus dan Hari Pahlawan 10 November. Jadi kami merasa kehilangan,” katanya.

Ia mengatakan, almarhum pada minggu pekan lalu masih sempat naik ontel bersama anggota komunitas itu keliling Kota Pekanbaru.

“Yang saya salut dari beliau adalah, dia sering ke kantor dan kegiatan lainnya pake sepeda ontelnya tua itu,” kata Fauzar mengenang sosok almarhum.***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: