Sab 22 Muharram 1441 H, 21 September 2019
Home / Sains & Teknologi / Peneliti temukan bintang pertama saat pembentukan galaksi Bima Sakti

Peneliti temukan bintang pertama saat pembentukan galaksi Bima Sakti

Galaksi Bima Sakti (ilustrasi: NASA)

Pekanbaru (RiauNews.com) – Kelompok peneliti di Observatorium Roque de los Muchachos, La Palma, Spanyol, mengklaim telah menemukan bintang yang pertama kali ada saat galaksi Bima Sakti terbentuk setelah peristiwa “Big Bang”.

Dikutip dari laman Science Daily hasil penelitian yang dipublikasikan pada 31 Januari 2018 lalu ini menyajikan penemuan bintang-bintang “tua” dengan kandungan paling miskin-logam (elemen berat).

Bintangnya berada di 7.500 tahun cahaya dari Bumi, di lingkaran Bima Sakti, dan berada di garis pandang ke rasi Lynx, dan masih berada di “Main Sequence”, tempat di mana kebanyakan bintang menghabiskan sebagian besar hidup mereka.



Sumber energi dari bintang-bintang ini adalah fusi ion hidrogen di inti mereka, dan suhu permukaan dan luminositasnya hampir konstan seiring berjalannya waktu. Sifat lainnya adalah massa rendahnya, sekitar 0,7 kali massa Matahari, meski memiliki suhu permukaan 400 derajat lebih panas.

Penemuan ini dibuat dengan menggunakan spektra yang diperoleh dengan OSIRIS (Optical System for Imaging and low-intermediate-Resolution Integrated Spectoscopy). Spektroskopi memungkinkan kita untuk menguraikan cahaya benda langit untuk mempelajari sifat fisik dan kimia mereka, dan berkat ini kita tahu bahwa J0815 + 4729 hanya memiliki sepersejuta bagian dari kalsium dan zat besi yang dikandung Matahari, namun memiliki kandungan karbohidrat yang relatif besar yakni hampir 15 persen lebih banyak dari matahari.

“Kami tahu hanya beberapa bintang (yang bisa dihitung dengan jari tangan) jenis ini di lingkaran Bima Sakti, di mana bintang tertua dan paling miskin-logam di galaksi kami ditemukan,” jelas David Aguado, mahasiswa riset di IAC dan University of La Laguna (ULL) yang merupakan penulis pertama artikel tersebut.

“Teori memprediksi bahwa bintang-bintang ini terbentuk “sesaat” setelah supernova pertama, yang merupakan nenek moyangnya bintang masif pertama di Galaxy, sekitar 300 juta tahun setelah Big Bang,” lanjutnya.

“Terlepas dari umur dan jaraknya dari kita, kita masih bisa mengamatinya” tambahnya.

Dijelaskan, bintang ini terselip di data base proyek BOSS (Baryon Oscillation Spectroscopic Survey), di antara satu juta spektrum bintang yang telah dianalisis untuk mengidentifikasinya.

“Kami memerlukan usaha pengamatan dan komputasi yang cukup besar untuk mengindetifikasi bintang-bintang tersebut,” kata Carlos Allende Prieto, peneliti IAC lainnya, dan rekan penulis dari artikel ini.

“Diperlukan spektroskopi resolusi tinggi pada teleskop besar untuk mencoba mendeteksi unsur kimia pada bintan,g yang dapat membantu kita untuk memahami supernova pertama dan nenek moyang mereka,” dia menekankan.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: