Rab 19 Muharram 1441 H, 18 September 2019
Home / Politik / Setelah PSI, giliran Jokowi permalukan Indonesia di mata Rusia

Setelah PSI, giliran Jokowi permalukan Indonesia di mata Rusia

Capres nomor urut 01 Joko Widodo dianggap mempermalukan Indonesia di mata Rusia atas pernyataannya “Propaganda Rusia”.

Jakarta (RiauNews.com) – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief menilai calon presiden petahana Joko Widodo telah membuat malu Indonesia di mata Rusia. Menurut dia, pengetahuan Jokowi terbatas mengenai kontestasi politik yang tengah dihadapinya.

Pernyataan Andi Arief merespons pernyataan Jokowi yang menyebut ada pihak yang menggunakan propaganda Rusia dalam Pilpres 2019. Kedubes Rusia sudah angkat suara dengan menyatakan tidak campur atas politik dalam negeri Indonesia.

“Setelah PSI, kini Jokowi membuat malu Indonesia di mata Rusia. Malunya itu karena pengetahuan terbatas,” ucap Andi melalui pesan singkat yang juga diunggah ke akun Twitternya @AndiArief_, Senin (4/2/2019).

Andi menuding pengetahuan Jokowi terbatas karena hanya sekadar menyamakan gaya kampanye Prabowo Subianto dengan Donald Trump di Pilpres Amerika. Padahal, lanjut Andi, kubu Hillary Clinton dulu juga hanya menuding secara serampangan bahwa Trump dibantu Rusia dalam melancarkan propaganda melalui Facebook.

Andi menyebut Jokowi tidak melakukan penelitian mendalam untuk mengetahui siasat yang sebenarnya dilakukan kubu lawan, yakni Prabowo-Sandi.

“Pengetahuannya terbatas karena generalisasi dengan utak-atik gatuk tanpa penelitian mendalam,” kata Andi.

Andi kemudian mengatakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf pun memiliki cara berpikir serupa. Menurut dia, TKN hanya sebatas mengambil kesamaan gaya kampanye Prabowo dengan Trump, lalu menyimpulkan bahwa Prabowo menggunakan propaganda ala Rusia.

“Timsesnya berpikiran konspiratif dan mengambil kesamaan-kesamaan secara tidak proporsional dengan pemilu Amerika,” ucap Andi.

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyindir pihak yang selama ini menudingnya sebagai antek asing. Menurut Jokowi, justru mereka yang menuding dirinya antek asing menggunakan jasa konsultan politik dari luar negeri.

Jokowi tidak merinci siapa pihak yang dimaksud. Dia hanya mengatakan bahwa konsultan asing itu menggunakan propaganda ala Rusia di Pilpres 2019.

Propaganda Rusia itu sendiri, menurut Jokowi, yakni menyebarkan kebohongan sehingga membuat masyarakat menjadi ragu. Jokowi menyebut propaganda tersebut juga berpotensi memecah belah masyarakat.

“Enggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, enggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut, enggak peduli,” kata Jokowi di hadapan relawan Sedulur Kayu dan Mebel di Aula De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2).

Pada April 2018 lalu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany, diundang Duta Besar Rusia untuk Indonesia guna mengklarifikasi ucapannya di media yang mengatakan bahwa kondisi politik, kebebasan pers dan tingkat korupsi di Rusia lebih parah dari Indonesia.

Dalam pernyataan di video Tsamara menyebut Putin bukan contoh pemimpin yang baik karena ia membungkam oposisi dan pers di sana.

“Di Rusia tidak ada kebebasan beraspirasi seperti di Indonesia,” kata Tsamara.

Bahkan menurutnya, praktik korupsi di Rusia dibiarkan begitu saja.

“Kalau kita lihat dari segi indeks persepsi korupsi, Indonesia jauh di atas Rusia,” katanya.

Sayangnya Tsamara tak memenuhi undangan tersebut dengan berbagai alasan sehingga dia jadi sasaran cemoohan warganet.***

Sumber: CNN Indonesia

Komentar
%d blogger menyukai ini: