Sen 21 Rabiul awal 1441 H, 18 November 2019
Home / Politik / PDIP bantah tak ada regenerasi

PDIP bantah tak ada regenerasi

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terlihat bersama Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada kongres partai tersebut di Bali. (Foto: Detik)

Jakarta (Riaunews.com) – Penilaian Eros Djarot yang mengatakan tak ada regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ditampik Andreas Hugo Pereira.

Ketua DPP PDIP ini berkata, regenerasi di internal partainya berjalan mulus. Kader PDIP yang kini memegang jabatan publik, dari bupati bahkan presiden disebutnya sebagai bukti.



“Sekarang muncul generasi muda yang menjadi pemimpin di pusat dan daerah, seperti Puan, Ganjar, termasuk Jokowi pun bagian dari regenarasi itu,” ujarnya.

Walau begitu, Andreas menyebut peran Mega belum dapat dialihkan kepada kader lain. Menurutnya, pengalaman Mega menahkodai PDIP melewati rezim Orde Baru dan memenangkan partai banteng dua pemilu terakhir sulit dibantah.

Atas dasar itu pula, kata Andreas, 514 kepengurusan PDIP dari tingkat paling rendah hingga provinsi kembali mendukung Mega pada kongres tahun 2019.

“Tidak ada ketua partai yang dapat menandinginya: dua kali menang pilpres dan pileg. Partai lain masih sibuk soal siapa ketua umum, tapi capaian suara kurang. PDIP tidak ada persoalan sama sekali.”

“Dilihat dari banyak aspek, Mega masih sangat layak. Kader partai meminta Mega dikukuhkan lagi secara aklamasi. Suaranya bulat,” tutur Andreas.

Beberapa partai politik lain menggelar pemilihan ketua umum lewat mekanisme terbuka. Golkar menyelenggarakan konvensi sejak 2004. Demokrat sempat menggelar pemilihan ketua umum terbuka tahun 2014, tapi batal menetapkan kemenangan Dahlan Iskan.

Sementara PKS dan PPP memiliki lebih dari satu calon ketua umum dalam pemilihan terakhir yang mereka gelar.

Bagaimana peluang Risma, bahkan Jokowi?
Eros Djarot menyebut pernah muncul kesepakatan tak tertulis di internal PDIP bahwa pengganti Mega harus trah alias keturunan Soekarno. Namun ia menilai keputusan itu belum terang-benderang: keturunan langsung atau penerus daerah sang proklamator.

“Pengertian trah itu apa, garis partriaki? Artinya Guntur (kakak laki-laki Mega)? Atau sekedar darah, berarti Puan atau Prananda berpeluang,” ujar Eros.

Bagaimanapun, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, dua anak Mega, dianggap belum cukup modal menggantikan ibu mereka di tampuk kekuasaan PDIP.

Mada Sukmajati, dosen ilmu politik di Universitas Gadjah Mada, menyebut keduanya tidak punya legitimasi untuk memimpin partai banteng.

“Kepemimpinan Mega tidak semata mengandalkan status trah Soekarno, tapi juga perlawanan menghadapi kekuasaan otoriter Orde Baru. Itu legitimasi penguatnya,” kata Mada.

Kalaupun Mega kembali menjadi ketua umum hingga lima tahun ke depan, Mada menilai PDIP harus sudah memikirkan dan menyiapkan calon pemimpin mereka berikutnya.

Namun hingga saat ini, stabilitas internal dan capaian partai dalam pemilu disebut Mada masih lebih penting bagi PDIP. Ia berkata, prestasi anjlok Golkar di tengah pertarungan terbuka merebutkan kursi ketua umum merupakan preseden yang dihindari PDIP.

“Percuma jadi partai modern tapi kinerja elektoral tidak bagus dan tidak berkontribusi dalam kebijakan pemerintah.”

“Mega tidak akan membuat keputusan di mana PDIP bisa menjadi seperti Golkar, partisipatif tapi ada faksi dan friksi di internal partai,” kata Mada.***[BBC Indonesia]

Komentar