Sab 10 Rabiul akhir 1441 H, 7 Desember 2019
Home / Opini / Papua; Ironi Kemenangan Mutlak Jokowi

Papua; Ironi Kemenangan Mutlak Jokowi

Joko Widodo saat melakukan kampanye Pilpres di Papua. (Foto: Tribunnews)

Oleh: Iwan Balaoe

Jokowi disebut sebagai Bapak Pembangunan Papua, suara Papua mayoritas untuk Jokowi di periode pertama. Di pemilu 2019, masyarakat Papua pun masih mempercayakan pilihannya pada Jokowi yang menak telak 90,65%.



Jokowi berhasil merangkul masyarakat Papua, namun Jokowi tidak mampu merangkul masyarakat kritis Papua yang diwakili oleh OPM dan Mahasiswa. Dan disitulah kekurangan Jokowi. Mengabaikan kritik yang muncul dengan memberikan surga pembangunan yang bagi OPM bukan itu yang utama.

Berbagai kejadian sepanjang tahun 2018 dan 2019 adalah bukti bagaimana pergerakan OPM bukan lagi sekedar ancaman. Puluhan aparat telah mati dan korban sipil pekerja infrastruktur adalah bukti kekejaman OPM.

Ketika permintaan mereka diabaikan, maka cara selanjutnya adalah meminta perhatian dengan cara penculikan yang diakhiri pembunuhan. Proses ini akan mencapai puncaknya ketika masyarakat Papua sudah bisa mereka gerakkan.

Dukungan masyarakat ke OPM di Papua, tidak lah besar. Terutama masyarakat yang dekat dengan kota atau kabupaten. OPM banyak di dukung oleh masyarakat pegunungan.

Untuk menggerakkan masyarakat Papua, OPM memanfaatkan para mahasiswa Papua yang ada di daerah lain. Mahasiswa Papua adalah gambaran mahasiswa 98 Indonesia. Saat mahasiswa saat ini lebih mementingkan kenyamanan, mahasiswa Papua sudah berpikir bahwa mereka adalah tonggak perubahan untuk Papua. Mereka lebih berani, lebih kritis dan menjadi martir perjuangan OPM.

Demo mahasiswa Papua selalu berakhir kerusuhan. Mereka tidak takut akan ditindak seperti pelaku demo di gedung MK, justru mereka meminta diperlakukan brutal oleh aparat keamanan.

Saat mereka diperlakukan brutal, saat mereka dipersekusi, saat mereka diintimidasi maka saat itulah cerita bisa dijual ke tanah Papua bahwa mahasiswa Papua mendapatkan tindakan diskriminasi di luar Papua.

“Jika berita itu sampai ke Pace dan Mace Papua, kira-kira mereka akan terima tidak?”

Orang tua mana yang tidak marah saat anaknya mengadu dengan iringan air mata bahwa mereka diperlakukan seperti video yang beredar. Saudara mana yang tidak akan panas, saat mengetahui keluarganya diperlakuan sewenang-wenang.

Dan yang terjadi kemarin, adalah reaksi atas kejadian pada diri mahasiswa mereka. Sebuah skenario cantik antara OPM dan Mahasiswa untuk mendapatkan dukungan publik Papua.

Sekarang, OPM sudah mendapatkan dukungan dari masyarakat Papua. Mereka inginkan merdeka. Bahkan gubernurnya pun bersikap sebagai jubir.

Bisa jadi, situasi saat ini adalah situasi terakhir Papua dalam ‘NKRI. Jika pemerintah masih setengah hati mengurus aspirasi masyarakat Papua. Jangan harap freeport bisa dikunjungi dengan leluasa.

Ironi Papua..

Suaranya kau ambil
Hasil buminya kau kuasai
Aspirasi mereka tidak pernah kau peduli..

Kata mereka, Papua…di buang sayang.***

Artikel ini sudah dipublikasikan di laman Gelora.co

Komentar