Sel 16 Safar 1441 H, 15 Oktober 2019
Home / Opini / Alun-Alun Keraton Yogya: Dangdutan Boleh, Pengajian Dilarang

Alun-Alun Keraton Yogya: Dangdutan Boleh, Pengajian Dilarang

Oleh Doniriw

Riaunews.com – Di dalam tata kota Yogyakarta terkandung simbol sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan hidup manusia) sesuai aqidah islam.

Dimulai dari panggung krapyak di selatan sebagai simbol rahim ibu. Alun-alun selatan sebagai masa muda.



Siti Hinggal sebagai fase pematangan aqidah. Alun-alun utara sebagai keluasan hati, hasil kematangan aqidah.

Diteruskan beragam godaan duniawi berupa pasar beringharjo simbol harta, benteng vredeburg simbol orang kafir, kepatihan simbol karir, dan pasar kembang simbol nafsu pada wanita.

Berujung di tugu golong gilig simbol Tauhid, di mana manusia akan mati dengan kalimat itu.

Kesatuan antara Alun-alun, Keraton, & Masjid adalah simbol kesatuan rakyat, raja, dan ulama.

Pasar sengaja dibuat menjauh, agar kepentingan saudagar tidak mempengaruhi kebijakan Sultan, seperti dalam sistem kapitalis saat ini.

Kata Alun-alun berasal dari bahasa arab Alwan Alwan yang berarti berwarna warni. Simbol keberagaman rakyat.

Dari filosofi itu, sangat tepat jika event “Muslim United 2” bertema “Sedulur Saklawase” digelar di alun-alun & Masjid Gedhe.

Muslim United yang menghadirkan asatidz dari berbagai latar belakang berbeda, mempertemukan ummat dari berbagai haroqah yang berlainan, sangat tepat jika ditempatkan di Masjid Gedhe dan Alun-alun lor.

Namun belakangan ini ada kabar yang menyesakkan dada. Ijin penggunaan Masjid dan Alun-alun yang telah dikeluarkan, dicabut kembali entah atas desakan pihak mana.

Di saat yang bersamaan, acara dangdutan live pamer aurat milik stasiun tivi nasional berjalan aman tanpa penolakan dari pihak yang menolak Muslim United.

Alun-alun yang menjadi simbol keluasan hati itu tetiba berubah menjadi kesempitan pikir.

Kesatuan raja, ulama, dan rakyat sirna di balik dentum speaker dangdut berkekuatan belasan ribu wat.

Duhai Pangeran Mangkubumi, maafkan kami yang tak kuasa berbuat apa, demi melihat warisanmu luluh lantak di bawah nafsu angkara.

Duhai Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, maafkan kami yang hanya orang kecil ini, tak kuasa menjaga warisan Mataram sebagai penjaga Islam.

Yaa Rasulullah Yaa Allah, maafkan kami. (*)

 

Artikel ini sudah dipublikasikan di situs Eramuslim.com

Komentar