17 Desember 2018
Home / News / Nasional / Putri Anne Avantie: Kalau tak berkenan jangan dilihat

Putri Anne Avantie: Kalau tak berkenan jangan dilihat

“Anak Daro” Minangkabau yang mengenakan suntiang dan pakaian yang tertutup. (Kredit: Weddingku.com)

Jakarta (RiauNews.com) – Rancangan busana Anne Avantie yang dikenakan artis Sophia Latjuba dikecam masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Sebab, dengan mengenakan ‘suntiang’ –yang merupakan hiasan kepala “anak daro” saat resepsi pernikahan– namun sayangnya dipadukan oleh Anne dengan kebaya desain dada terbuka. Ini jelas-jelas dianggap sebuah penodaan terhadap budaya Minang yang berfalsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”.



Terkait protes kekecewaan masyarakat minang tersebut, putri desainer Anne Avantie, Intan Avantie menanggapi dengan santai.

“Jika memang ada yang kurang berkenan, silakan tidak melihatnya saja,” katanya seperti yang dikutp dari Republika.

Intan memandang karya seni memiliki dimensi yang luas. Menurutnya, apa yang ditampilkan dalam pagelaran busana karya Anne Avantie tersebut merupakan kreasi budaya. Karena ajang tersebut merupakan pagelaran budaya, lanjutnya, maka karya yang ditampilkan juga berupa kreasi budaya, bukan pakem budaya. Itu pun, desain busana yang ditampilkan harus mengimbangi sense of fashion penikmat seni busana.

Baca: Bundo Kanduang Minang akan somasi Anne Avantie

“Seni itu kan luas, tanpa batas, keindahan akan ditafsirkan keliru kalau kita melihatnya tidak dengan kacamata seni,” katanya.

Intan juga merasa kekecewaan masyarakat terkait kreasi ‘Suntiang Minang’ dengan kebaya merupakan imbas dari polemik puisi Sukmawati Sukarnoputri yang juga viral.

Sophia Latjuba mengenakan busana karya Anne Avantie yang dianggap menodai kebudayaan Minangkabau. (Kredit: Sophia Latjuba/Instagram)

“Kalau sekiranya kurang berkenan, mungkin tidak perlu dilihat, supaya tidak menimbulkan ketidaknyamanan,” ulasnya.

Sebelumnya, Ketua Penasihat Bundo Kanduang Sumatra Barat Nevi Irwan Prayitno mengaku prihatin dengan kreasi Anne Avantie tersebut.

Menindaklanjuti hal ini, Nevi berencana mengajukan somasi kepada desainer bersangkutan. Menurutnya, hal ini dilakukan agar hal serupa tidak terulang dan penggunaan busana adat Minangkabau mengikuti aturan adat yang ada.

“Rencananya, somasi itu akan ditandatangani ketua Bundo kanduang dan seluruh pembina Bundo Kandung di seluruh kabupaten/kota, termasuk Pemprov Sumbar,” katanya.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: