14 Desember 2018
Home / News / Nasional / Menag kembali ingatkan seruan ceramah di rumah ibadah

Menag kembali ingatkan seruan ceramah di rumah ibadah

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. (Kredit: Kemenag.go.id)

Semarang (RiauNews.com) – Memasuki tahun politik, yakni pemilihan kepala daerah (Pilkada) di 2018 ini dan pemilihan legislatif (Pileg) serta pemilihan presiden (Pilpres) pada 2019 mendatang, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan kembali para penyuluh terkait sembilan seruan ceramah di rumah ibadah.



“Menghadapi tahun politik, kami mengingatkan kembali kepada para penyuluh untuk senantiasa mengingat dan menerapkan sembilan seruan ceramah di rumah ibadah. Hal ini penting karena penyuluh agama mempunyai tingkat urgensi dan relevansi yang tinggi di masyarakat,” kata Lukman, di Semarang, Sabtu (14/4/2018).

Hal ini disampaikan Lukman saat mendampingi Presiden Joko Widodo dalam acara bersilaturahim dengan 5.177 penyuluh di Jawa Tengah, di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang.

Menurut menteri asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, penyuluh agama merupakan salah satu tulang punggung Kemenag dan hakikatnya adalah penyambung lidah Pemerintah ke masyarakat.

“Penyuluh agama mempunyai kedudukan, peran dan fungsi sangat strategis,” tegasnya.

Berikut seruan agar ceramah agama di rumah ibadah yang dikeluarkan Kementrian Agama pada 28 April 2017 lalu, dalam rangka menjaga persatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa:

1. Disampaikan oleh penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan peradamaian umat manusia.

2. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.

3. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama mana pun

4. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spiritual, intelektual, emosional, dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kapasitas diri, pemberdayaan umat, penyempurnaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa, serta kesejahteraan dan keadilan sosial

5. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus Bangsa Indonesia, yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

6. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.

7. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan, dan/atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis, dan destruktif.

8. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan/atau promosi bisnis.

9. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: