19 Desember 2018
Home / News / Nasional / Banjir TKA bisa munculkan kecemburuan sosial

Banjir TKA bisa munculkan kecemburuan sosial

Tenaga kerja asing asal Cina yang diduga ilegal kembali diamankan di Perawang, Kabupaten Siak, Riau.

Jakarta (RiauNews.com) – Banjirnya tenaga kerja asing (TKA) terutama asal Cina, baik legal bahkan ilegal, dinilai bisa memunculkan kecemburuan sosial. Hal ini diingatkan Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar, karena TKA yang datang nyatanya tak hanya mengisi bagian expret, tapi juga pekerjaan kasar seperti buruh atau sopir.



“Undang-undangnya hanya mengizinkan yang profesional, expert atau ahli. Jadi kalau tenaga kerja kasar enggak boleh. Mungkin secara sosiologis orang bilang, ‘ini juga pekerjaan kami kasar, kok enggak dapat sih, orang lain (pihak asing) dapat’, kan begitu,” ujar Timboel yang dikutip Kompas.com.

Menurut Timboel, anggapan itu masuk akal dan akan muncul di benak masyarakat. Sebab, jika pemerintah tak bisa mengontrol arus tenaga kerja asing baik legal dan ilegal, maka pekerja Indonesia hanya sekadar menjadi penonton dan memperluas jurang kesenjangan.

Sementara itu, Timboel juga melihat keberadaan Perpres TKA ini cenderung melanggar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pelanggaran itu diperparah dengan tidak maksimalnya penegakkan hukum terhadap tenaga kerja asing ilegal.

“Nah, penegakan hukum ini yang lemah. Jadi Perpres 20/2018 itu memang tujuannya mendorong proses investasi lebih cepat, tetapi, melanggar ketentuan,” kata dia.

Meski pemerintahan rezim Joko Widodo terus membantah bahwa yang datang adalah tenaga ahli, namun kenyataan di lapangan berbeda, sebagaimana laporan yang dipaparkan pihak Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Berdasarkan investigasi ORI mereka lakukan pada rentang waktu Juni hingga Desember 2017 lalu di tujuh provinsi, ditemukan enam pelanggaran dari Peraturan Presiden yang mengatur kemudahan TKA. Diantaranya, TKA yang didatangkan perusahaan ternyata bekerja sebagai buruh kasar, namun gajinya bisa tiga kali lipat dari tenaga kerja lokal.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: